Lingga


Dewi duduk sendiri. Di depannya laptop masih menyala, entah apa yang dia kerjakan. Memikirkan desain tesis atau menunggu panggilan untuk melakukan kencan kilat dengan laki-laki tunaasmara. Malam itu langit mendung, gerimis turun membasahi jalan. Uapnya naik ke atas, membentuk sekepul asap. Bau aspal mengalahkan aroma asap rokok yang dihirupnya dalam-dalam, masuk ke paru kemudian diembuskan lewat mulutnya yang berbibir manis.

Warung kopi, malam itu, walau gerimis, tetap ramai. Warung kopi milik tauke-tauke rajin, diisi orang-orang muda yang malas. Malas menghadapi realitas, bahwa hidup adalah perjuangan penuh darah dan lelah. Walau adakalanya diiringi desah dan basah.  Dewi menghirup puntung rokoknya lagi, entah yang keberapa kali. Abunya bertaburan di atas lantai. Membuatnya kesat namun susah dibersihkan oleh babu yang paginya datang membawa pel dan ember. Dewi sendiri saja.

Meja segi empat, kursi kayu dengan sandaran setinggi dada. Dewi nyaman dengan suasana malam itu. Walau ruangan sempit tak lebar penuh asap rokok, bising baling-baling kipas logam yang berisik, musik pop-rock yang tak henti diputar, dia tahan duduk berjam-jam. Duduk saja, dengan rokok dan satu gelas kopi hitam pekat fakir gula.  Di sisi kiri dan kanannya banyak laki-laki yang larut dalam obrolan. Pelbagai tema, mulai dari batu akik, pekerjaan, percintaan, perkimpoian, hingga obrolan-obrolan transenden-sufistik yang kadang hanya dibicarakan lewat mimbar-mimbar perguruan tinggi.

Pikirannya semrawut, selalu teringat-ingat dengan pesan temannya perihal pembatasan pornografi. Dibukanya kamus, sekadar meyakinkan dirinya, dan menemukan bahwa pembatasan itu begitu dangkal! Pornografi adalah konten yang mampu membangkitkan berahi, membangkitkan hasrat seksual. Bukankah itu merupakan pembatasan paling kejam terhadap keliaran manusia? Dewi merenung dalam. Begitu subjektif, pikir Dewi.

Memang, beberapa hari ini Dewi disibukkan dengan pembahasan konten karya sastra serta efek yang ditimbulkannya pada pembaca. Semacam mencari hubungan antara karya dengan pembacanya. Hubungan yang menjadi tampak ilmiah, padahal karya sastra itu dibuat dengan intuisi dan pemahaman terhadap fenomena semata. Pornografi, apa pornografi? Dewi pusing memikirkannya, membuat otaknya menyelip-nyelip ke memori masa lampau. Dilihatnya jam yang tergantung di dinding depan dekat kasir, jarum detiknya bergerak teratur, tik tik tik, mengubah detik jadi menit, lalu menit jadi jam. Akhirnya Dewi membuat simpulan, pornografi bukan sesuatu yang bisa dirasa. Pornografi bukan aksi, pornografi bukan penyebab, pornografi hanya benda, benda yang sama-sama dikafiri sebagai porno, grafi dan aksi! Intinya, aku harus katakan, pornografi adalah persepsi! Begitulah ingin Dewi.  Ditulisnya beberapa gagasan itu di selembar kertas kecil, note yang rentan dibuang, untuk menyalurkan pikiran liarnya. Kemudian direnungnya beberapa saat, diremas, kemudian dibuang. Dibuang ke lantai.

Malam beranjak naik, purnama sedang malu-malu untuk muncul lagi. Barangkali sudah bertemu pasangannya, purnama beranjak ke peraduan untuk memadu madu. Gerimis berhenti, digantikan sepi dan sunyi. Laki-laki yang ada di kiri dan kanan dirinya satu persatu, perlahan pulang. Ada yang ke rumah, bertemu istri. Ada yang ke rumah, bertemu bini. Ada yang ke rumah, bertemu dirinya sendiri dengan selembar tisu basah dan lotion antinyamuk. Ada yang ke rumah, ke rumah laki-laki, saling menautkan lingga berkali-kali hingga pagi.

Dewi mengisap rokoknya untuk terakhir kali. Bahunya ngilu, kakinya kaku, hatinya beku. Jam masih berdetik, tik tik tik. Dewi pulang ke kontrakannya, tanpa rasa untuk diungkapkan lewat kata-kata. Malam semakin beranjak naik. Hasrat terhadap dunia dan Tuhan pun sama, ikut-ikutan naik.




Comments