Lalitavistara



Aku mulai membuka laptop dan menulis ini setelah melakukan ibadah sore. Iya, ibadah sore ketika mentari terbenam di ufuk barat. Sebelumya mamaku telah memeringatkan agar aku rajin beribadah. Entahlah, mamaku mulai peka dan memerhatikan kebiasaan ibadahku. Kuperhatikan melalui jendela, langit di bulan Juni. Tadi siang turun hujan namun malam ini purnama bercahaya sungguh cerah. Kuperhatikan dengan saksama, aku membayang dalam pikiran mengingat  kisah seorang manusia agung yang kehidupannya terekam dalam Lalitavistara.

Sudah lama betul aku tak menulis note di facebook. Selain aku memang akhir-akhir ini sedikit membaca,  kesulitan menyusun satu wacana utuh menjadi sebabnya.  Kuputuskan untuk menulis note ini sebab aku merasa risih, iya risih. Ada segelintir orang yang bicara langsung kepadaku dan mengatakan bahwa setiap postku di facebook mengganggu ketenangan jiwa mereka: aku gemar membuat ulasan mengenai pelbagai ajaran non-Islaam sedangkan di saat bersamaan mereka tahu bahwa aku adalah pengikut Muhammad Abdullah.

Iya, malam ini adalah Purnama yang bertepatan dengan hari kelahiran Siddharta Buddha Gautama. Beliau adalah seorang sosok agung yang ajarannya dimalkan oleh sebagian manusia di bumi ini.  Perlu kusampaikan sedikit, Siddharta Buddha Gautama merupakan seorang guru yang rela melepaskan kemewahan duniawi untuk menuju kebenaran sejati: Nibbhana. Dalam proses perjalannya menjadi seorang Buddha, Siddharta melewati perjalanan yang panjang dan penuh penderitaan samsara. Satu sabdanya yang paling kugemari berbunyi, “Jangan engkau percayai semua kata-kataku sebelum engkau menelitinya dengan cermat.”

Perlu kusampaikan sedikit pandanganku mengenai Sang Buddha. Bukan sebab aku telah menjadi pengikutnya atau pun aku telah khatam membaca riwayat hidupnya, melainkan hanya sebab bahwa dia dan aku sama-sama manusia ciptaan Sang Hyang Agung.  Sempat kuperhatikan kalender, ternyata Siddharta lahir pada abad lima sebelum masehi. Lima abad sebelum kelahiran Yesus Kristus, sepuluh abad sebelum kelahiran Muhammad Abdullah.  Tentu saja, sebagai orang yag dikenali sebagai pengikut Muhammad Abdullah, aku mesti apik dalam bertutur dan menyampaikan gagasan: termasuklah menyampaikan gagasanku mengenai Siddharta Gautama.

Agama yang terlembaga telah menjadi pilihan manusia pada saat ini. Iya, agama yang terlembaga. Agama yang mengharuskan pemeluknya memiliki panutan tertinggi setelah pembawanya, agama yang mengharuskan pemeluknya berkomunitas membentuk sebuah kekuatan, agama yang mulai duduk di kursi-kursi pemerintahan, hingga agama yang mengatur serta menghukum bentuk pakaian setiap pemeluknya. Iya, dua puluh lima abad  pascakelahiran Siddharta Gautama, manusia lebih memilih agama yang terlembaga.
Pada hakikatnya tak ada yang keliru tentang perlembagaan sebuah agama, sebab dengannya ajaran agama bisa menjadi lebih kuat dan bisa diterapkan di setiap sendi kehidupan. Ya, banyak orang mungkin menganggap ini sebagai suatu hal yang menggembirakan. Sebab ada yang bisa menyalurkan aspirasi megalomanianya melalui agama yang telah terlembaga. Namun hal ini tidak berlaku bagiku, iya, bagiku sebagai insan yang masih muda dan baru, yang belum mengenal samsara, yang belum mengenal dunia dan semua keburukannya.

Melalui agama yang telah terlembaga, pengikut ajaran Muhammad Abdullah secara proaktif membatasi pergaulan dengan pengikut ajaran lainnya.  Bukan hanya pergaulan, bahkan buah pikir dan sabdanya pun seolah diharamkan untuk dirapalkan. Ini yang sedang terjadi kepadaku saat ini. Ketika aku dengan semangat tinggi mengulas tentang Yesus Kristus, ketika aku mengulas tentang Siddharta Gautama, maka pengikut ajaran Muhammad Abddullah pun dengan semena-mena telah menuduhku melakukan perbuatan sesat dan mesti bertaubat pada Tuhan Yang Mahaagung: dalam ajaran Muhammad Abdullah, Tuhan Yang Mahaagung dinamai Allah. Aku berpikir anggapan tersebut sungguh keliru, atas alasan apa aku tak boleh mengagumi leluhurku sedangkan perlembagaan agama baru muncul setelah kematian mereka?  Atas alasan apa aku tak boleh mengagumi leluhurku sedangkan panganut ajaran agama yang terlembaga malah menjadikan ajaran leluhurku sebagai keset dan kuda untuk memenhui kebutuhan hidup mereka?

Ya, melalui note ini hendak kusampaikan. Baik itu Siddharta Gautama, Yesus Kristus, Muhammad Abdullah, mereka adalah manusia yang diberikan kelebihan untuk menerjemahkan pesan-pesan Tuhan. Iya, mereka manusia yang tujuan kedatangannya untuk memperbaiki moral manusia. Dengan adanya agama yang terlembaga, aksesku terhadap leluhur-leluhur yang lahir sebelum Muhammad Abdullah, termasuk mereka berdua,  menjadi sangat terbatas. Ya, memang aku gemar mempost setiap hasil bacaanku, barangkali orang lain tak akan tahu dengan kegemaranku yang satu ini jika aku tak membagikannnya ke facebook. Hingga saat ini aku tetap berkeyakinan bahwa semua leluhur merupakan guru yang agung, guru yang baik, dan dengan demikian sebagai umat akhir zaman aku perlu belajar pada mereka semua.  
Barangkali bakal ada yang akan mencapku sebagai seorang liberalis, pluralis, atau apa pun sebutannya itu. Sungguh, aku tak akan peduli pada komentar insan-insan yang keberadaanya di lingkaran terluar kehidupanku. Aku hanya sedang belajar menemukan diriku dan memahami diriku.  Terbukalah kepadaku maka aku akan menjadi milikmu. J



Lalitasvistara: Kitab yang berisi kisah hidup Sang Buddha, dipahatkan dalam bentuk relief di Candi Agung Borobudur.



Comments