Lagak

                                                       

Selamat malam manusia-manusia yang terberkati, terrahmati, dan dengan segenap kuasa-kehendak-Nya tetap sebagai manusia yang selalu belajar dan memperbaiki diri. Cuaca Pontianak hari ini sangat cerah, dari pagi, siang, hingga sekarang aku masih bisa memandang beberapa bintang yang tersempil pada kegelapan malam.
Tadi pagi aku dimarah-marahi dosenku. Ah, aku sedih betul sebab kau tahu sendiri lah bagaimana rupa dosen yang sedang murka. Aku sembap, beberapa kali terisak pelan sambil mengelap air mata yang menetes sedikit. Dosenku berkata lantang, berapi-api, gelisah betul kuperhatikan wajahnya.  Sebenarnya beliau tak marah padaku, tak juga pada temanku. Tapi sebab cara berucap yang tulus itu loh, aku merasa bahwa aku adalah pesakitan yang dimarahi. Ah, dalam hal seperti ini aku kok menjadi perasa betul ya?  Semacam timbul empati pada kegelisahan orang lain padahal pada dasarnya aku bukanlah orang yang mudah merasa bahkan aku sering tak peduli dengan urusan orang.
Beberapa pesan dosenku sampaikan, mungkin bisa lah kiranya kucantumkan satu atau dua di antaranya di sini. Pesan pertama ini, menarik betul, sungguh menarikku. Dosenku katakan bahwa dosen tak berotoritas kebenaran, ia hanya berotoritas keilmuan.  Dalam beberapa kesempatan kudengar beliau berkata tentang ini, otoritas, apa sih otoritas itu? Aku pun membuka-buka kamus dan menemukan padanan yang kuanggap tepat, yakni kewenangan. Pernyataan dosenku itu dapat lah kira-kira diartikan menjadi, dosen berwenang tuk menyampaikan ilmu namun tak berwenang tuk mengklaim  kebenaran. Aku tercengang dengarkan  ini. Tapi kupikir sejenak, betul pula ya? Lalu dosenku sampaikan beberapa hal yang berkaitan dengan ini, namun tak enak hati tuk kutulis. Cukup menjadi makanan orang yang sekelas denganku saja.
Berkaitan dengan otoritas itu tadi, tentu setiap manusia memilikinya. Termasuk otoritas terhadap dirinya, keluarganya, isi otaknya, isi perutnya, keturunannya, bahkan otoritas terhadap nama baik leluhurnya. Otoritas  memang susah betul untuk dijaga, sebab jika satu hal dianggap tercela dan tak baik, maka otoritas itu akan hilang dengan sendirinya. Contoh sederhananya begini, setiap manusia berotoritas terhadap isi otaknya. Namun ada sebagian yang menyerahkan kemampuan nalarnya itu pada sesuatu yang berada di luar dirinya, sesuatu yang buram, bahkan terlampau jauh dan tak terjangkau. Otoritas itu lalu dibiarkan begitu saja sehingga sesuatu yang jauh itu ikut mengotoritasi hal-hal vital  lain dalam hidupnya. Jika sudah demikian, susah bagi manusia untuk berlepas diri dan berpaling dari sesuatu itu sehingga setiap tindakan-tundukan selalu mengacu dan merujuk pada sesuatu itu.
Otoritas terhadap diri sendiri, pada abad 21 ini, sungguh suatu hal yang sangat diperlukan. Apalagi dengan munculnya beragam media sosial yang telah menjadi gaya hidup, kalau tak mau dikatakan pengikut perkembangan zaman yang setia. Dalam media sosial inilah, setiap manusia berlomba-lomba menunjukkan otoritasnya. Otoritas terhadap perasaan bahagianya, otoritas terhadap pencapaiannya, otoritas terhadap jalan hidupnya, bahkan menunjukkan otoritas terhadap ketidaktahuannya. Bolehlah kusebut otoritas itu dengan berlagak-lagak di dunia maya.  Tapi memang ya, berotoritas di dunia maya, lalu kusebut sebagai berlagak-lagak itu, memang menyenangkan. Mengapa? Sebab kita tak dituntut untuk memiliki otoritas sungguhan! Otoritas abal-abal dan palsu pun bisa menaikkan nama kita beberapa derajat di antara pengguna dunia maya. Apakah ini sebuah masalah? Aku tak mau menjawab dulu. Jika dilihat ke belakang, sungguh otoritas merupakan penghargaan yang tumbuh sendiri dan diberikan oleh orang lain kepada seorang manusia disebabkan ada suatu hal yang kuat dan ajeg. Lalu, jika otoritas berlagak-lagak dengan kepalsuan ini, apakah masih layak untuk diakui? Aku juga bingung ya. Sebab kecenderungan pengguna media sosial ini, apalagi dari Indonesia, gemar betul menutup-nutupi lalu memoles dirinya. Sehingga saban hari tersaji melalui beranda, khususnya facebook, hal-hal palsu. Ah, memang ya, berlagak-lagak punya otoritas itu sungguh menyenangkan!
 Pontianak, 21 September 2014

Comments