Korban


Beberapa hari ini pengikut setia ajaran Ibrahim akan memeringati sebuah peristiwa penting yang terjadi ribuan tahun lampau.  Sebuah kejadian yang begitu menegangkan hingga menarik urat nadi pencerita dan penyimaknya. Peristiwa yang teramat transenden dalam kehidupan manusia, yaitu ketika seorang pemuja Tuhan yang taat diminta menyembelih anak kesayangannya sebagai wujud penghambaan sejati.

Tentang korban ini, tak perlu lah terlalu banyak kita kait-kaitkan dengan kisah mitologi dan teologi yang selalu berdesus di kuping masyarakat. Cukup lah dihubungkan dengan kehidupan antara orang tua dengan anak-anaknya. Gibran pernah bersajak Anakmu bukanlah milikmu, mereka lahir melaluimu tetapi bukan darimu. Sajak yang tepat disampaikan oleh orang tua kepada anaknya, sajak yang tepat pula disampaikan guru kepada muridnya.  Lalu, apakah dengan sajak itu Gibran hendak menghilangkan semua jejak-jejak yang telah menjadi benih dalam diri seorang anak? Tentu tidak, tidak sama sekali. Lewat sajak itu Gibran menjelaskan tentang pengorbanan. Korban tentang kerelaan dan kepatuhan pada Sang Agung.  Anak yang sungguh disayang dan dinantikan, lalu atas sebab perintah Sang Agung, mesti dikorbankan di atas altar pemujaan. Apa yang dipikirkan Ibrahim waktu itu?  Tentu, perasaan sedih dan cemas memenuhi ruang dadanya. Namun dengan patuh, sang anak meyakinkan Ibrahim sambil berujar, “Ayah, jika yang engkau lakukan ini mendekatkanku dan engkau kepada-Nya, lakukanlah.” Setelah menemukan sepenuh keyakinannya, Ibrahim melaksanakan perintah Tuhan dengan lapang dan rela.

Lalu bagaimana dengan hidup orang tua dengan anak-anaknya? Tuhan memberikan benih yang keluar lewat ayah kemudian tumbuh dalam rahim ibu. Setelah cukup masa bunting, anak keluar menghirup udara dengan hidung dan parunya sendiri. Bersusah payah anak dibesarkan, dididik, disapih, diasuh, dan diasah kemampuan oleh ayah dan ibunya. Lalu sampai usia tertentu, anak mulai berulah. Ucapan orang tua tak lagi diindahkan sebagaimana biasanya. Perintah dan larangan lalu lah dianggap sebagai kerangkeng. Namun untuk orang tua, Gibran pun telah berpesan lewat sajaknya, Engkau bisa membuatkan rumah bagi raganya namun tidak bagi jiwanya. Mereka adalah pemilik rumah masa depan yang tiada dapat kau kunjungi sekalipun dalam mimpimu. Anak bertumbuh dan berkembang sesuai dengan polanya, kemudian keluar dari rumah dan pergi, kadang kembali tuk melepas rindu atas benih yang tumbuh dalam tubuh orang tua dan anak-anaknya.  Lalu, betapa transendenkah cerita Ibrahim tersebut? Iya, sungguh transenden dan dengan analogi sederhana serta permohonan ampun pada Yang Mahaagung, boleh disematkan pahala Korban Ibrahim pada orang tua yang telah berkorban demi anak-anaknya. Kadang manusia mencari-curi kisah transenden para nabi untuk menjadi pedoman dalam hidupnya, padahal sudah dengan sendirinya Sang Agung mengejawantahkan kisah-kisah itu di dalam diri mereka.  Korban merupakan kerelaan, keikhlasan, ketundukan, kepatuhan, dan banyak betul rasanya kata untuk menjelaskan korban. Namun, hal penting yang tersembunyi dalam korban adalah cinta dan kasih sayang. Itulah inti dari korban. Bukankah atas sebab cinta dan kasih sayang Ibrahim maka Sang Mahaagung meminta anaknya dikorbankan?


Beberapa orang pengikut setia ajaran Ibrahim nyekar ke makam leluhurnya dalam beberapa hari ini. Nyekar dengan membawa pelbagai warna-aroma kembang dan sewadah air bening untuk disiram-siramkan, dengan tanpa sadar berharap air itu akan mendinginkan dan menyejukkan tubuh leluhur yang telah lebur dengan muasalnya. Tentu dengan masih memiliki rasa cinta dan kasih sayang, bisa terlintas dalam benak untuk meminta mereka bangun sejenak sambil mendaraskan ayat-ayat malaikat yang mereka peroleh di liang lahat. Doa-doa dan bait syukur semoga selalu kita sampaikan pada Sang Mahaagung.  Semoga berkenan pula mengidungkan caturpuja untuk leluhur saya.  Terima kasih, hatur nuhun.

Comments