Kopi Susu

Tidak ada yang berbeda di pagi hari itu. Jalanan masih saja lembap bekas hujan tadi malam. Air got hitam yang tergenang masih saja menebarkan aroma tak sedap yang sedikit-sedikit menghilang  ketika panas  sudah datang.  Hilir mudik kendaraan dan pejalan kaki mulai meramaikan pagi itu. Ada yang membawa anak istrinya, ada yang sendirian, ada yang renta diantar anaknya, namun tidak ada yang muda-muda berpasangan. Karena orang Pontianak , hingga saat ini atau bahkan hingga kiamat nanti tidak ada yang berpacaran di pagi hari!

Masih di pagi hari itu, seorang laki-laki paruh baya tengah sibuk mengelap mangkuk basah. Di dekatnya sebuah kompor panas tengah menghangatkan sepanci besar bubur nasi. Bumbu bumbu dan segala jenis potongan daging tersimpan rapi dalam toples-toples bersih yang berjejer di gerobak dorong yang telah diubah menjadi lemari.  Cukuplah dengan modal seperti itu ia menghidupi diri. Berjualan bubur nasi setiap pagi dengan menumpang pada teras toko seorang Cina.

Laki-laki paruh baya itu, tahu betul tabiat orang Melayu. Tak perlu ditanya kepada siapa pun, setiap orang sudah tahu kalau orang Melayu sangat senang meminum kopi dan memakan kue, terutama goreng pisang di pagi hari.  Orang Melayu juga sangat jarang untuk memasak di pagi hari.  Nah, dengan demikian, agar buburnya laris manis , tak segan-segan ia menyewa teras toko itu untuk berjualan bubur.  Ya, terasnya saja.  Jika ada orang yang datang meminum kopi dan membeli pisang goreng, hanya sedikit dari mereka yang tidak membeli bubur nasi. Untuk sarapan anak-anak, begitulah kata mereka. Alah, apa pun saja alasannya, tak penting bagi si lelaki paruh baya. Yang penting adalah buburnya laris manis hingga tak sebutir beras pun yang tersisa.

Masih di pagi hari itu, tiba-tiba datang  satu rombongan yang kira-kira berjumlah 40 orang. Tepandang sana’ tepandang sine’  orang-orang yang ada di jalan . Bukan main senang hati si lelaki paruh baya itu.  Rombongan itu lalu duduk di dua kelompok meja yang sipaksa-paksakan agar bisa menyatu. Terlihat juga ada beberapa orang yang berumur cukup tua dan gendut dalam rombongan itu. Namun yang terlihat dominan adalah anak-anak muda yang sangat berseri-seri. Mungkin mereka baru saja mandi. Menikmati air Kapuas yang terlampau segar dibandingkan sungai-sungai yang mengalir di Swiss.

Ada dua dan tiga orang tak henti-hentinya membidik anggota rombongan. Si amoy yang membawakan senampan kopi susu pun jadi tersipu-sipu. Tersipu-sipu karena malu hendak difoto juga.  Termasuk lah si lelaki paruh baya. Namun tak ada seorang pun yang berkenan memfoto dirinya.
Berpuluh gelas kopi susu terhidang di atas meja dalam sekejap saja.  Kemudian bubur nasi juga mengalami hal yang serupa. Asapnya mengepul-ngepul mencapai hidung. Menusuk-nusuk rambutnya hingga cairan pekat pun seakan hendak meleleh dibuatnya. Memang beginilah nasib orang Pontianak, selalu terkena pilek ketika musim hujan datang.

Bubur nasi itu sangat enak. Tak henti-hentinya orang-orang dalam rombongan itu menyeruput kuahnya pelan-pelan.  Bayangkan saja, bubur dari beras pulen dicampur kaldu ayam yang berbumbu pekat, diataburi racikan daging ayam, emping melinjo, potongan daun bawang, dan tentu saja tidak pernah dilupakan taburan irisan bawang merah yang telah digoreng.  Rombongan menikmatinya pelan  namun sambil tergelak-gelak karena gurauan yang tak karuan dan tak jelas di pagi buta seperti ini.

Sambil memegang sendok dengan tangan kanan, tangan kiri mereka mencoba mengaduk-aduk susu yang ada dalam pekatnya kopi.  Mhhhh, aromanya sangat harum.  Saking tak sabarnya, kopi itu diciduk dengan sendok kecil yang sangat cembung. Mereka terpejam,  kopi itu bergerak pelan dari sendok, mengenai bibir, memenuhi mulut, membasahi kerongkongan dan berakhir di lambung. Sempurna! Betapa pandainya si pembuat kopi itu mencampurkan susu dalam pekatnya kopi yang dihidangkan. Suhu airnya yang pas, aroma yang mantap, dan rasa yang sangat menggoda membuat rombongan itu memesan kopi susu bergelas-gelas. Bahkan bergelas-gelas lagi. Semakin tersipu-sipu lah si amoy pembuat kopi itu.

Lelaki paruh baya itu masih sibuk melayani pembeli yang terus berdatangan. Pembeli yang baru tidak bisa makan di toko itu karena telah penuh oleh rombongan tadi. Terpaksa mereka bungkus dan bawa pulang.  Si amoy tadi, yang tinggal menunggu kopi si rombongan itu habis, mencoba dekat dengan cowok berkacamata yang ada di pojok meja. Dengan sangat malu-malu dia menanyakan asal si rombongan. Dengan cuek, sambil mengotak-atik kamera si cowok itu pun menjawab, “Teman-teman kampus kamek bah dari luarr nageri.” Ohhh, dari luar negeri ternyata. Ah, tak ada tampang bule atau oriental. Sedikit pun tidak ada. Paling jauh dari Malaysia atau Brunei Darussalam. Tak perlu waktu lama bagi si amoy membuktikan anggapannya. Terlihat olehnya sebuah jalur gemilang tersemat di lengan anggota rombongan itu.

Ternyata lama juga mereka menghabiskan semangkuk bubur nasi.  Nah, ketika sedikit lagi yang tersisa, ada seorang laki-laki muda membawa dua piring di kedua belah tangannya.  Pandangan semua orang tertuju pada piring itu. Setelah sampai tergeletak di atas meja, terlihatlah beberapa pisang goreng yang telah dipotong dadu dan dilengkapi dengan beberapa garpu kecil. Terlihat sangat enak.  Bukan sekadar pisang gorengnya, namun sesuatu yang bertaburan di atasnya! Putih –putih dan bertebaran tebal di atas pisang goreng. Tak salah lagi, itu keju, ya keju!

Rombongan mencicipi  pisang goreng keju itu. Enak? Haaaah, mereka tak mampu berkata-kata. Sangat enak , bahkan terlampau enak.  Baru kali ini ada pisang goreng yang seenak ini. Mendengar sanjungan itu, sang penjual pun menceletuk, “Aih, tempat lain tak ade kayak gine’ ni. Cume di Pontianak yak yang pisang gorengnye tak ade duaknye di dunie. Luar biase enaknye.”  Mendengar celetukan itu, kontan rombongan tertawa riuh. Sambil tak lupa memesan pisang goreng itu beberapa piring lagi.

Matahari pagi yang sembunyi di balik atap mulai menampakkan sinar cerahnya, namun masih tetap di pagi 
hari itu. Jalanan pun semakin ramai pula, padat merayap, sesek da penuh, tak jauh beda dengan New York yang katanya kota tersibuk di dunia. Rombongan itu pun berdiri, bersiap-siap untuk pergi. Setelah tagihan diselesaikan, satu persatu rombongan itu kembali ke tempat masing-masing. Toko itu pun kembali sepi, yang tinggal hanya si amoy, lelaki paruh baya, dan penjual goreng pisang tadi. Tak lupa juga, beberapa pembeli yang datang lantas pulang kembali dengan kecewa karena bubur dan goreng pisangnya sudah habis.


Begitulah keadaan setiap pagi. Selalu terulang dari puluhan tahun yang lalu dan akan terus terulang hingga puluhan tahun lagi. Tidak ada yang berbeda lagi, karena akan tetap sama, tak peduli dengan gencarnya makanan-makanan asing yang segera  merongrong bubur, kopi, dan pisang  goreng.  Begitulah keadaan setiap pagi, semoga akan tetap seperti ini.

Pontianak, 13 Februari 2012

Comments