Interferensi

Dini mengenakan kaos lengan pendek dan jeans biru. Dia duduk di depan rumah, memandang mentari senja yang sebentar lagi akan terbenam di balik pohon-pohon semak di depan rumah. Beberapa kendaraan lewat di jalan. Angin bertiup pelan menggoyang daun-daun rumput yang tumbuh tinggi sebab sudah lama tak ditebas.

Malam ini Dini akan bertemu dengan seorang  laki-laki paruh baya di sebuah hotel. Iya, hotel. Sejak kuliahlah, sejak mengenal betapa gampangnya menarik uang dari laki-laki setengah tua, Dini keranjingan melayani setiap orang yang mengajaknya kencan. Kencan kilat, sekadar nongkrong dan ngobrol.
Dini berasal dari kampung. Walau bukan kalangan priyayi, keluarganya begitu mengagungkan betapa pentingnya pendidikan formal di bangku sekolah. Pandangan bahwa pendidikan akan mampu mengangkat derajat hidup orang, tentu Dini pahami sepenuhnya dan dengan penuh keyakinan pula dia mengingat-ingat hal itu. Tetapi, dalam upayanya menuju kedewasaan, pendidikan tak akan mampu bertahan kuat jika tak dilandasi keadaan ekonomi yang mapan. Apalagi dengan berpindahnya dia ke kota, mulai mengenal hedonisme dangkal, uang begitu penting dalam hidupnya.

Sore ini Dini duduk di depan rumah, memandang mentari senja yang sebentar lagi akan terbenam di balik meja-meja setengah dada yang di atasnya terdapat asbak, puntung rokok, kopi-kopi pahit hitam, dan jari-jemari yang bertautan sendiri atau bertautan dengan jemari yang lain.  Udara senja dihirup perlahan, aroma asap kemarau dan decit burung gereja ikut masuk ke dalam parunya. Dipandangnya langit yang digantungi awan-awan jingga,  burung-burung pulang ke sarang menambah corak hitam di langit senja yang mulai kelam.

Sambil memerhatikan sekeliling, Dini mencoba memersepsi semua semesta dengan semua indranya. Kemudian terbayang suatu taman surga yang penuh kenikmatan dengan air-air yang mengalir di bawah lantai kaca. Ah, sial! Akhirat membuat manusia lupa dengan eksistensinya sebagai mahkluk lemah tak berdaya yang mencoba kelluar dan bebas dari kungkungan dan ikatan doktrin tuhan yang lahir pada zaman lampau. Berkaitan dengan lelaku kencan kilat yang dilakukannya, tentu masyarakat yang katanya bernilai dan bermoral akan menghukumnya dengan sebutan perempuan nakal yang tak beradab dan tak tahu adat. Namun Dini tak pedulu, dibiarkannya persepsi semesta mengalir melalui dirinya untuk segera dibebaskan kembali kepada orang yang menyampaikannya.


Sudah lama sekali Dini mengasah persepsi pengindraannya. Namun dia tak pernah selesai sebab sungguh banyak hal-hal lain yang menginterferensi konsentrasi. 

Comments