Inanomali


Rumput di halaman rumah makin tinggi, makin hijau, makin lebat, makin tak terurus, makin tak terawat. Biasanya pemilik rumah datang saban bulan untuk membersihkan rumah yang Bram tempati. Tapi sudah tiga bulan ini, si janda pemilik rumah tak pernah muncul lagi. Barangkali sedang sakit atau apa lah, Bram tak tahu.  Matahari tampak makin tinggi, menyinari bumi dengan gagah perkasa, dengan sombong. Rumah dua lantai, tak bertetangga. Di situlah Bram dan beberapa temannya hidup berteduh selama menyelesaikan kuliah. Jauh dari kesan mewah, di rumah sederhana itulah  para laki-laki muda yang sedang bergelora dalam semua hal melepas letih, lelah, kesal, capai, hingga melepas benih-benih mereka. Di dinding kokoh milik perempuan yang sering berganti kasih atau pun di selembar tisu. Bahkan benih-benih itu kadang dielap  dengan baju bekas, lalu dilempar begitu saja ke pojok kamar hingga kering. Sebagian tumpah ke lantai, bersatu dengan debu dan abu, bersatu dengan jelaga dan ampas kopi yang tumpah namun tak pernah dibersihkan. Rumah yang tak pernah terkunci, sepanjang tahun, sering dimasuki laki-laki dan perempuan, sering pula dimasuki pencuri. Pencuri barang berharga hingga pencuri perhatian laki-laki muda yang selalu haus dengan perasan keringat mahkluk berbuah dada.
Bram mengisap rokoknya, entah puntung yang ke berapa. Hari ini dirasakannnya begitu suntuk. Dia baring di kasur butut,  memandangi coretan di dinding yang dibuatnya sendiri. Lantai kamarnya kotor oleh debu dan abu, sebagian tampak bercak-bercak bening. Entah bekas apa, mungkin gara-gara perbuatannya tadi pagi dengan orang yang baru dikenalnya.
Televisi  menyala, menyiarkan entah berita sampah yang tak jelas sumbernya. Akhir-akhir ini televisi mulai terpolarisasi. Bram mengganti-ganti kanal, tak ada yang menarik perhatian. Namun dibiarkannya saja televisi menyala, di dalam kotak kaca  ada seorang pewarta perempuan muda sedang membacakan berita. Bram menghirup napas panjang, rokoknya hampir padam. Berita yang disampaikan masih berkaitan dengan perseteruan presiden dengan DPR. Padahal sudah setahun, hawa-hawa panas dua kubu masih tetap terasa. Sebagai mahasiswa jurusan sastra, Bram tak begitu ambil pusing. Dia hanya memandang sederhana, semua yang terjadi di atas muka bumi adalah skenario Sang Kuasa. Bram telah menjadi pemuja nativisme sejati setelah memasuki semester akhir, semester yang seharusnya digunakan untuk skripsi, namun habis dengan pesta, buku bacaan, dan petualangan cinta.
“Bram, dimana?” Pesan singkat masuk yang baru dibacanya setelah buang air. “Aku ke tempatmu ya!” Tak lama, orang yang mengirimi Bram pesan, datang. Mereka berbicara singkat, sedikit saja. Pagi itu rumah sedang sepi, teman-teman kontrakan Bram belum ada yang bangun tidur. Ah, kontrakan culas! Orang itu masuk, langsung rebah di kasur butut. Bram memandang sekeliling, gorden ditutup, begitu pula dengan pintu. Agar tak mencurigakan, alas kaki orang itu dibawa masuk ke kamar.  Bram mendekati tamunya, basa-basi sebentar. Ada peluk dan kecup, lalu berakhir dengan peluh, desah, dan bercak-bercak bening-lengket di kulit.

Bram kembali mengisap rokoknya. Rokok buatnya gila dan ketagihan. Sehari tanpa rokok lebih buruk daripada sepekan tanpa makan! Dia baru ingat dengan jadwal diskusinya sore ini. Bram segera berbenah, mandi, menggosok semua perkakasnya,  mengecek ulang apakah ada bekas merah di kulit leher dan tengkuknya. Tak berganti pakaian, hanya menyemprotkan parfum murah-palsu isi ulang, Bram pergi meninggalkan rumah kontrakannya. Dia menerawang jalan, mengingat-ingat kalimat yang diucapkan sang  tamu  ketika berselingga dengannya, “Istri mas lagi mens.” Bram tak peduli lagi, akhir-akhir ini semuanya jadi  liar. 

Comments