Identifikasi

Tadi malam, waktu berbincang dengan teman kantor, saya baru paham mengapa Muhammad dianggap sebagai uswatun hasanah umat Islam. Bukan semata-mata memandangnya sebagai tokoh spiritual, namun ada hal yang lain. Suatu yang sangat penting buat ditelaah, yang tidak sekadar sebuah pertanyaan apakah Muhammad menjulurkan kain melewati mata kaki atau tidak.

Sebagai mahkluk berkebudayaan, hidup berkelompok tentu memungkinkan bagi manusia membentuk suatu pola. Pola ini lah yang lama kelamaan membentuk (sekaligus dibentuk) hukum formal. Hukum formal, baik tertulis maupun tidak akan mengikat dan mengatur tiap anggota kelompok masyarakat. Selain membentuk pola, manusia membutuhkan cita-cita atau sederhananya membutuhkan sebuah keadaan ideal bagi kehidupannya di masa sekarang maupun akan datang. Disebut ideal ketika pola-pola yang sudah dikodifikasi tersebut bisa diterapkan secara menyeluruh.

Dinamisnya pergerakan sebuah kelompok masyarakat, menyebabkan manusia begitu rentan dipengaruhi oleh kelompok lain. Persinggungan dengan kelompok lain ini lah, yang memberi warna baru. Ketika keadaan ideal masyarakat yang pada mulanya dibentuk secara kontinyu dalam waktu yang panjang, dipengaruhi oleh suatu pemahaman bahwa keadaan ideal manusia akan tercapai ketika mampu mengidentifikasi diri dengan simbol lain yang notabene berasal dari luar kelompok masyarakat itu.

Tanpa diduga, cita-cita yang menjadi tujuan komunal itu bisa dicapai dengan kegiatan mengidentifikasi diri dengan sesuatu yang lain. Jadi, manusia tidak hanya membentuk pola hidup namun juga mengidentifikasi dirinya dengan sesuatu yang dianggap relevan.
Seperti yang pernah saya ungkapkan dalam note Facebook yang lalu, identifikasi itu adalah hal yang penting untuk membentuk karakter dan implikasinya pun tak tanggung-tanggung sebagai salah satu faktor bertahannya ras manusia hingga saat ini.
Setiap agama atau anggaplah aliran kepercayaan tentu menampilkan detail ideologinya dalam sebuah tanda, sebuah simbol, sebuah semion yang bisa ditiru, diidentifikasi, atau dicita-citakan.

Nah, balik lagi ke paragraf pertama, kehadiran Muhammad tidak semata-mata sebagai tokoh spiritual, melainkan menjadi lambang cita-cita tertinggi bagi penganut agama Islam. Gerak-geriknya dijadikan tolok ukur, begitu pula perkataan ataupun keputusannya terhadap suatu hal. Jika secara tekstual, dideskripsikan bahwa Islam adalah rahmatan Lil alamin, identifikasi terhadap sosok Muhammad merupakan satu-satunya cara. Tentu saja, identifikasi tersebut pun mesti dengan mempertimbangkan mana hal yang artifisial maupun esensial.
Allahumma shalli ala Muhammad.
Singkawang, 6 September 2017

Comments