Identifikasi (II)

Unik, manusia begitu gemar mengidentifikasi atau mengimitasi dengan unsur lain di luar dirinya. Sederhananya, manusia gemar menjadikan dirinya sebagai sebuah entitas lain yang bukan dirinya. Pernyataan ini bukan tanpa sebab. Hal ini dilihat dari maraknya budaya pop, ketika anak muda meniru pola hidup dan tingkah laku idolanya, entah itu idola secara estetis, politis, ataupun ideologis. Menyamakan diri dengan yang lain (baik itu secara komunal, contoh K-Pop atau pun oeraonal, contoh marhaenis) tentunya perkara yang pelik sekaligus menarik untuk ditelisik.
Sebagai mahkluk individu yang memiliki kebutuhan eksistensi, pada mulanya menjadi diri sendiri adalah puncak kematangan intelektual. Maksudnya adalah ketika seseorang mampu berolah pikir, tindak, dan wicara sesuai dgn karakter dan sifat yang dimilikinya itu menandakan bahwa ybs. telah memasuki fase puncak kehidupannya sebagai manusia. Namun entah mengapa, dan ini dialami hampir semua orang di era borderles, identifikasi kepada objek lain lah yang justru dianggap sebagai puncak perkembangan kepribadian.
Mengidentifikasi diri kepada objek lain, pada dasarnya, disebabkan oleh beberapa alasan. Menurut observasi penulis, alasan pertama manusia mengidentifikasi dirinya dengan seorang yang lain secara personal ataupun secara komunal lebih disebabkan oleh masifnya budaya pop. Atmosfer zaman istilahnya. Manusia akan mengikuti, menyesuaikan, mengidentifikasi dirinya sesuai dengan zamannya. Tak pelak lagi, ketika pada era ini bentuk hidup hedonisme dan materialistis menjadi tolok ukur kehidupan sosial. Punya barang mewah, punya gawai canggih, berlibur tiap akhir pekan, mengonsumsi makanan yang harganya di atas rata-rata, berkumpul di tempat yang “in” adalah beberapa hal yang kerap dijadikan patokan identifikasi diri. Jika tidak punya beberapa yang disebutkan di atas, rasanya belum sah menjadi warga millenium ketiga. Tentu, bagi kalangan the have identifikasi diri kepada hal-hal yang hedon dan materialistis bukan perkara sulit, tapi bagaimana dengan masyarakat akar rumput yang terlanjur tercemar akibat silau dengan yang mereka lihat tiap hari di Instagram? Gap atau ketimpangan itu lah yang menciptakan gejala panjat sosial, sebuah istilah yang cukup populer akhir-akhir ini. Selain alasan budaya popular, alasan ideologis tentu tidak dapat dikesampingkan. Apa? Ideologis?
Nah, mungkin agak kaget ketika identifikasi juga bisa berlandaskan ideologis. Agama yang menjadi gembong utama penyebaran ideologi tidak lagi sebatas aturan yang punya taring di rumah ibadah. Ia kini telah merangsek ke semua aspek kehidupan pemeluknya. Alasan ideologis ini bukan tanpa alasan alias asal njeplak. Ada gejala yang menunjukkan meningkatkan tingkat religius masyarakat, artinya adalah pelbagai kegiatan beragama tidak lagi menjadi urusan personal semata, melainkan sesuatu yang memiliki kebanggaan. Ditambah dengan hadirnya internet tanpa batas dan betapa kreatifnya produser televisi, agenda beragama pada saat ini pun telah memiliki nilai jual, berating tinggi. Bagi masyarakat Indonesia, identifikasi diri dengan alasan ideologis ini pun tampaknya adalah hal yang sangat lumrah.
Mengingat bahwa, identifikasi ini “seolah-olah” meningkatkan sisi spiritual seseorang yang implikasinya adalah memeroleh kebahagiaan di dunia dan “akhirat”. Di atas telah penulis paparkan dua alasan mengapa manusia suka mengidentifikasi dirinya dengan hal lain. Lalu bagaimana dengan penulis sendiri? Tentu, pengalaman identifikasi diri tiap individu adalah berbeda dan penulis merasa sangat beruntung karena identifikasi diri bermula dari jalan pertama tiap buku yang dibaca. Bagi penulis, identifikasi ini merupakan cara paling sederhana namun paling aman. Walaupun tidak semua orang akan melakukannya karena tidak semua orang gemar membaca.
Identifikasi diri melalui bahan bacaan atau identifikasi diri terhadap sesuatu di bahan bacaan mengharuskan penulis untuk mengelaborasi pengetahuan dan pemahaman yang dimilikinya dengan sesuatu yang baru. Diperlukan proses pikir yang panjang dan tidak sederhana sebelum mengidentifikasi diri dengan bahan bacaan. Perlu diketahui, identifikasi diri dengan bahan bacaan merupakan media identifikasi saja. Alasannya bisa budaya populer maupun ideologis. Sebab ada orang yang membaca karena bahan bacaannya sedang naik daun dan ada pula orang yang membaca karena dianggap bernilai ibadah. Di akhir tulisan, ada sebuah tesis yang perlu direnungkan. Setiap upaya manusia, apapun itu, tidak berdiri sendiri. Ianya saling berhubungan dengan yang lain. Identifikasi diri kepada sesuatu yang lain tidak sepenuhnya salah, walaupun diasumsikan ybs. tidak berkepribadian utuh atau tidak mampu menjadi diri sendiri. Tapi yang pasti, mengidentifikasi diri dengan sesuatu yang di luar entitas manusia itu lah yang menyebabkan manusia masih ada hingga saat ini.
Singkawang, 4 September 2017

Comments