Hormat


Linguis mendefinisikan  kata hormat sebagai perbuatan menghargai, takzim, khidmat, dan sopan. Kata ini lazim diidentikkan dengan perbuatan resiprok, yakni saling dilakukan oleh dua pihak atau lebih. Akhir-akhir ini beredar sebuah perdebatan di media sosial yang berkaitan dengan kata hormat. Hingga hari ini, kaum suburban-konservatif masih terus menjadikannya sebagai sebuah wacana yang begitu penting untuk terus dibahas. Perdebatan ini dipantik oleh pernyataan seorang menteri yang menyatakan bahwa rumah makan tak perlu ditutup di siang hari di bulan puasa. Pernyataan itu beliau sampaikan melalui akun twitter, sehingga dengan mudah disebarluaskan tanpa didahului upaya memahami substansi makna yang disampaikan.
Perlu diketahui  bersama, pernyataan tersebut muncul menjelang pelaksanaan ibadah  pengikut ajaran Muhammad Abdullah yakni berpuasa selama tiga puluh hari. Barangkali agak berbeda dengan ajaran lainnya, puasa ini berupa menahan diri dari makan dan minum serta aktivitas seksual sejak terbit fajar hingga terbenamnya matahari. Namun ketika berpuasa, pengikut ajaran Muhammad Abdullah tetap melaksanakan kegiatan hariannya. Misalnya bekerja, belajar, dan sebagaianya.

Pelbagai reaksi muncul berkaitan dengan ibadah puasa dan pernyataan sang menteri. Penolakan dan menganggap sang menteri terlampau jauh dalam bertoleransi adalah reaksi dari kelompok pertama. Kelompok pertama menganggap bahwa setiap rumah  makan harus ditutup pada siang hari. Oleh kelompok pertama ini, pernyataan sang menteri diduga kuat akan mengganggu kegiatan ibadah yang mereka lakukan. Dengan dibukanya rumah makan pada siang hari, mereka tidak akan bisa berkonsentrasi dalam melakukan puasa. Dalih lain adalah semakin susahnya mengajari kelompok anak-anak berpuasa sebab mereka (anak-anak yang baru belajar berpuasa) akan terpapar makanan yang terpajang di etalase.  Sedangkan kelompok kedua menganggap hal ini, pernyataan sang menteri, adalah hal yang biasa. Kelompok kedua menganggap bahwa kegiatan berpuasa adalah kegiatan personal. Hal ini dilandasi bahwa tidak ada satu pun orang yang tahu kalau seseorang sedang berpuasa, kecuali dirinya sendiri.  Mereka menganggap bahwa puasa merupakan bentuk latihan kejujuran yang hakiki. Ibadah-ibadah lainnya, tentu saja akan tampak secara fisik. Sedangkan puasa tidak sama sekali.

Perdebatan tersebut tidak akan sampai ke tahap yang lebih akut. Namun ada hal yang menarik, yakni ketika ada sebagian pengikut ajaran Muhammad yang mengkritisi pernyataan menteri dengan alasan bahwa semua orang yang ada di nusantara mesti memberikan hormat kepada umat Islam yang melakukan ibadah puasa. Iya, setiap orang mesti memberikan hormat. Satu di antara bentuknya adalah dengan menutup rumah makan.
Sebentar, setiap orang mesti memberikan hormat pada orang yang berpuasa? Dalam bentuk menutup rumah makan? Perlu dipahami bersama, ibadah puasa bukanlah ibadah yang hanya disyariatkan pada pemeluk ajaran Muhammad Abdullah. Ianya telah dilakukan oleh manusia sejak zaman lampau. Hindu, Buddha, serta Katolik, ajaran yang berumur lebih tua daripada ajaran Muhammad telah menganjurkan pengikutnya untuk berpuasa. Walaupun dengan konsep yang pelbagai jenis. Namun ada satu hal yang mesti diingat, puasa berarti menahan. Iya, menahan segala bentuk kesenangan duniawi dan hanya menumpukan satu-satunya harapan pada Ilahi. Hal ini bermaksud bahwa dengan berpuasa, manusia mengakui segala kelemahan dan ketidakmampuannya dan menjadikan Ilahi sebagai satu-satunya tempat berharap. Bukannya berharap dihormati dan dengan barbar menutup rumah makan milik orang lain. Sebagai pertanyaan penutup, apakah pengikut ajaran Muhammad benar-benar tidak bisa berpuasa dengan khusuk jika rumah makan tidak ditutup?Apakah pengikut ajaran Muhammad benar-benar tergiur dengan setiap makanan yang dipaparkan di rumah makan?

Rahayu, selamat menunaikan ibadah puasa untuk semua pengikut setia Muhammad Abdullah. Semoga puasa membuat kita semua menjadi insan yang bijak dan cendekia.




Comments