Dewanti

           Dewanti mematut-matut dirinya di depan cermin hias berkusen kayu warna cokelat kehitaman. Rambut panjangnya diurai, mengilap dan bergelombang menutup leher jenjangnya yang sungguh memesona. Wajah cantiknya dipoles sedikit bedak dan blush on. Matanya yang indah diberi garis tipis hitam. Tentu, bibir manisnya dilapisi lipstik merah muda. Dia memerhatikan dengan saksama. Oke, tak ada yang kurang! Batinnya.  Pagi itu, embun masih melekat di kelopak anggrek pojok beranda.  Sisa-sisa hujan tadi malam menciptakan genangan air di halaman. Rumput tampak lebih hijau, bunga-bunga halusnya menyembul di balik ketiak daun. Nanti kalau sudah kering, menempel di kulit-kulit anjing yang sering hilir mudik. Jalan depan rumah masih lengang, hanya satu dua orang saja yang melintas. Bersepatu sambil berlari kecil, mengawali akhir pekan dengan berkeringat.
          Dewanti, anak tunggal dari keluarga yang harmonis sebenarnya memiliki pekerjaan tetap di sebuah instansi perbankan. Namun hari ini, atas ajakan teman kuliahnya dia nyambi sebagai SPG. Biarlah, itung-itung mengisi weekend agar tak terbuang sia-sia. Gajinya lumayan, pekerjaannya pun tak banyak dan tak sampai setengah hari. Batinnya lagi.
“Sebentar lagi kami sampai, tunggu depan rumah.” Dewanti membaca pesan dari temannya. Segera dia kenakan baju kemeja ketat berlengan pendek. Dua kancing paling atas sengaja terbuka, menjadikan liontin berpermata hijau tampak cantik di sela-sela warna merah bra. Rok sepan berwarna senada dipasang hingga menutupi pinggangnya yang ramping. Parfum beraroma kayu-manis dan lemon disemprotkan di tengkuk dan belakang telinga. Siap, Dewanti sudah menyiapkan diri sebaiknya untuk bekerja sebagai sales promotion girl di akhir pekan.  Temannya tiba,  mereka segera berangkat ke pameran otomotif yang dilaksanakan di mall.
           Beberapa teman Dewanti mengenakan pakaian yang sama. Mereka tak perlu banyak bekerja, malah sama sekali tak perlu berpeluh! Cukup duduk sebentar, kadang berdiri ketika ada calon pembeli yang datang. Dengan beberapa brosur di tangan, senyum manis memikat selalu Dewanti dan teman-temannya tebarkan ke siapa saja. Laki-laki mana yang tak tertarik untuk mendekati perempuan cantik seperti mereka. Beberapa ada yang sengaja datang untuk menanyakan spesifikasi barang yang dijual, namun ada juga sebagian yang cuma datang menggoda. Berharap pertemuan di siang hari, di pusat perbelanjaan, akan berlanjut ke pertemuan selanjutnya yang sepi dan pengap sebab keringat.  
Tiba waktu istirahat siang. Dewanti duduk di foodcourt menunggu pesanannya. Tiba-tiba ada pesan masuk, dari seorang calon pembeli yang tadi tampak begitu bersemangat untuk deal. Ya, deal! Dewanti tak pedulikan, toh dia pikir  hanya nyambi untuk hari ini saja. Sorenya Dewanti pulang, diantar lagi oleh teman-temannya. Mandi dengan air hangat membuatnya segar kembali. Direnungnya perlahan sambil menghirup aroma secangkir teh. Beberapa temannya pernah berkisah. Deal barang yang terjadi antara SPG dengan pembeli bisa berlanjut ke deal yang lain. Jika pembeli lihai dan SPG bersangkutan sedang mood, transaksi kedua pun terjadi. Transaksi gelap-gelapan, bahkan tanpa perlu menggunakan kemeja yang diberikan oleh manajer penjualan.
            Dewanti mengambil secarik kertas yang ada di atas meja kamar. Ditulisnya beberapa kalimat untuk mewakili kegundahan hati dan pikirannya. Sebagai seorang terpelajar yang berada dalam keluarga priyayi gede agung tentu para perempuan dalam keluarganya dididik untuk bekerja di tempat yang baik. Berada di lingkungan yang baik dan tentu saja memeroleh gaji yang bisa membuat hidup tampak sangat baik. Tapi tak semua orang bernasib sepertiku, Dewanti menghela napas panjang. Banyak perempuan yang tak memeroleh pendidikan yang layak ditambah pula berasal dari keluarga akar rumput. Pelbagai cara mereka lakukan untuk bertahan hidup: bekerja keras dan kasar, menikah, dan pekerjaan lainnya yang jika dilihat sekilas tampak jelek namun mereka bisa apa! Perempuan yang tanpa daya, menikah pun merupakan sebuah pekerjaan. Dengan harapan agar tak perlu lagi bekerja, sehingga semua perkara di hidupnya diserahkan ke laki-laki yang menikahinya. Entahlah, bagi Dewanti pilihan seperti itu hanya akan membuat perempuan jatuh kepada tiga hal yang membatasi ruang geraknya: bergumul dengan kasur, sumur, dan dapur.

Memang, setiap perempuan akhir-akhir ini berusaha untuk menjadi setara dengan laki-laki, dari segi apapun. Pelbagai pekerjaan pun dilakoni oleh perempuan, bahkan ada beberapa diantaranya yang memang membutuhkan perempuan agar suatu barang bisa laku lebih laris. Namun, dengan upaya penyetaraan itu pun, perempuan masih saja memosisikan dirinya sebagai objek, tak jauh beda dengan barang yang dijualnya sendiri di pameran-pameran.  Masih memosisikan bahkan mengobjekkan dirinya demi kebutuhan sejengkal. Iya, kebutuhan lelaki yang tak lebih panjang dari sejengkal. Dewanti menatap sore yang jingga. Mengobjekkan diri untuk diojek seolah merupakan hal yang lumrah terjadi, namun itu tentu akan mencoret-coret tujuan kemerdekaan bagi perempuan. Terutama bagi SPG-SPG cantik dan seksi, merdeka dari anggapan laki-laki yang gemar menjengkali siapa saja, bahwa mereka, SPG-SPG itu,  bukan lagi perempuan. Dewanti menutup jendela, cuma sedikit  sinar senja yang tembus lewat celah kaca.

Comments