Bram (II)

Bram baru saja tiba di kontrakan. Wajahnya berminyak, badannya berkeringat, kaosnya bau asap, kandung kemihnya penuh minta segera dimuncratkan. Malam minggu ini Bram habiskan dengan segelas kopi pahit dan beberapa linting rokok. Asap-asap yang mengepul di warung kopi menjadikan malam semakin pekat dengan aroma yang kecut-sarat.

Kebiasaannya, ketika datang, begitu pintu tanpa gagang diputar, Bram meletakkan kunci motor kesayangannya di paku samping jendela. Serta merta dibukanya pakaian yang menempel, buru-buru, hingga tak lama tampaklah rambut-rambut lebat yang tumbuh di sekitar dada hingga pubisnya.
Handuk lembap yang sudah dua pekan tak dicuci segera dilingkarkan di pinggang. Pinggang yang sering dielus dan dipeluk oleh lawan jenis, yang kemudian tak hanya dipeluk, bahkan meliuk-liuk hingga tuntas. Bram ke toilet gelap tanpa lampu. Berdiri sambil kencing dengan lega. Setelah usah, segayung air mengalir cepat di toilet sambil sesekali dipercikkan ke ujung lingganya yang masih menetes.  

Begitu banyak hal yang Bram lakukan hari ini. Walau akhir pekan, tak membuatnya bermalas-malasan di rumah sambil menonton film basah dan bermain tisu. Sebagai anak muda yang jarang di rumah, Bram sungguh gemar menghabiskan waktunya dengan ngobrol berjam-jam di warung kopi. Ya, sama seperti anak muda seusianya, yang masih menjadikan ujung lingga dan bibir sebagai mainan, Bram pun tahan menenggak bergelas-gelas kopi pahit disertai beberapa linting rokok, samnil ngobrol. Walaupun topik yang digemarinya tak jauh-jauh dari tentang Tuhan dan segala kemustahilan-satire yang dimiliki-Nya.

Bram mau tidur saja. 

Comments