Bram (I)


Aku adalah anak tertua di keluarga dengan tiga orang adik . Sering aku mengukur kemampuan mereka dengan diriku, saat mereka tak mencapai kemauanku lalu aku menganggap mereka bodoh dan terbelakang daripada diriku. Aku ingin mereka jadi a, b, c, dan d yang sesuai dengan kehendakku yang telah kuanggap tepat. Tapi tak sepenuhnya terwujud, hal itulah yang membuatku agak stress memikirkannya.
Beberapa kesempatan kuingat bagaiman perlakuan ayah dan ibu terhadapku selama ini. Agak heran ya, mereka dalam banyak hal tak sedikit pun pernah memaksaku, terutama yang berkaitan dengan hajat hidup dan masa depanku. Ayah dan ibu membiarkanku tumbuh begitu saja, dengan arahan yang diberikan seperlunya, dengan hukuman yang juga diberikan seperlunya.  Tapi aku masih menganggap belum cukup bijak untu bertindak layaknya orang tuaku. Hingga tiba pada hari ini, oleh desen di kampus aku diperkenalkan dengan puisi Kahlil Gibran yang berjudul Anak.  Berikut aku cantumkan terjemahannya,
  
Anak
Anakmu bukanlah milikmu
Mereka adalah putra-putri Sang Hidup, yang rindu akan dirinya sendiri
Mereka lahir melaluimu
Tetapi bukan darimu
Mereka ada padamu namun bukanlah milikmu

Berikanlah pada mereka kasih sayangmu
Namun jangan sodorkan pemikiranmu
Sebab pada mereka ada alam pikiran tersendiri

Engkau mungkin membuatkan  rumah bagi raganya, namun tidak bagi jiwanya
Sebab jiwa mereka adalah penghuni rumah masa depan
Yang tiada dapat kau kunjungi, sekalipun dalam mimpimu

Engkau boleh menyerupai mereka namun jangan membuat mereka menyerupaimu
Sebab kehidupan tidak pernah berjalan mundur ataupun tenggelam ke masa lalu

Engkaulah busur asal anakmu
Anak panah hidup, melesat pergi

Sang Pemanah membidik sasaran keabadian
Dia merentangkanmu dengan kuasan-Nya
Hingga anak panah itu melesat jauh dan cepat

Bersukacitalah dalam rentangan tangan Sang Pemanah
Sebab Dia mengasihi anak-anak panah yang melesat laksana kilat
Sebagaimana dikasihi-Nya pula busur yang mantap


Entah mengapa ya, sejak kubaca sajak itu sampai habis, kubaca lagi hingga dua tiga kali, kok aku merasa dingin. Dingin dalam kelegaan sebab telah menemukan jawaban-jawaban dari pertanyaan yang selama ini kulontarkan pada diriku sendiri.  Sajak ini membawaku pada beberapa simpulan untuk diriku sendiri, yang berupa pernyataan bahwa anak adalah manusia yang berhak penuh dengan masa depan dan pilihan hidupnya. Walau hingga usia tertentu anak masih terikat dengan kekang orang tua, itu tak akan menjadikannya berhenti tumbuh menjadi manusia yang paripurna.

Nanti, ketika aku jadi orang tua, aku berharap betul akan menerapkan curahan hati Kahlil ini dalam kehidupanku.  Tak lupa, terima kasih untuk ayah dan ibu atas benih dan rahim yang menjadi asal-muasalku, serta perjuangan yang telah diberikan hingga Tuhan mengizinkanku bisa hadir di dunia pada saat ini.  Untuk adik-adik yang saat ini masih dalam tahap belajar di lembaga formal, sebagai anak tertua saya serahkan masa depan pada pundak kalian masing-masing. Tentukan arahnya, nahkodailah, bentangkan layar selebarnya, pelajari segalanya. Pasti, untuk urusan bahan bakar memang sudah menjadi tanggung jawab anak tertua untuk memenuhinya. Nanti, di suatu masa ketika kita semua infinite aku mau kita berkumpul lagi dalam sebuah rumah. Rumah tempat kita bertumbuh dan berkembang dalam keberlimpahan berkat dari Tuhan Yang Mahakuasa, Tuhan Yang Mahaberpengetahuan dan hanya pada-Nya semua bahasa manusia akan dikembalikan.


Comments