Perempuan Bisa Cantik

Gara-gara mabuk kafein tadi malam, aku jadi bingung untuk menjawab pertanyaan, "Apakah perempuan muslim boleh tampil cantik?" Ya, ketika saat ini perempuan-perempuan muslim terhimpit di antara desakan ideologi dan kapitalisme. Jangan jauh-jauh, kalau kau kenal Wardah dan Zoya, mungkin kau paham maksudku.


  1. Jawaban atas pertanyaan di atas seingatku sudah pernah dibahas oleh Prof. Syafi'i Ma'arif dalam biografinya.  Di dalam buku-buku Prof. Mulyadi Kartanegara pun seingatku ada, di dalam buku Mengislamkan Nalar salah satunya. 


Tidak bisa dikatakan tidak, perempuan, selain sebagai manusia juga sebagai komoditas dan sasaran bisnis. Dengan jumlah yang sangat banyak, perempuan dengan tidak sadar, atau bahkan sadar menjerumuskan dirinya ke dalam dikte-dikte perubahan zaman. Sederhananya, bagaimana perempuan bertindak, bukan lagi sebab kehendaknya, namun atas sebab bagaimana publik mengharuskannya.

Di masa Kartini, memang, perempuan berada di kasta bawah. Pendidikan dibatasi, apalagi keterlibatan dalam politik yang sungguh jauh panggang dari api. Dikte-dikter terhadap perempuan zaman lalu pun sebatas budaya feodal dan patriarki yang terlampau kuat. Namun, dengan kemajuan informasi dan teknologi, perempuan pun tetap saja kesulitan melepaskan dikte zaman kepada dirinya. Betul, perempuan zaman kini sudah sangat mudah untuk berekspresi, bahkan menjadi pejabat publik pun bukan sebuah hal mustahil.

Dikte yang aku maksud adalah ketika perempuan mesti takluk pada stigma bahwa lajang itu buruk, berkarier di luar rumah itu berbahaya, bahkan tentang bentuk tubuh dan wajah saja mesti berkaca pada bagaimana orang-orang Kaukasoid berdandan. Itu boleh kah? Tentu, boleh-boleh saja. Namun yang disayangkan adalah ketika zaman memberikan peluang selebar-lebarnya bagi perempuan untuk melakukan apapun, mereka justru menarik diri dengan alasan ideologis yang tak masuk akal! Lebih mementingkan estetika daripada substansi.

Populasi dunia semakin membludak, apa gunanya perempuan jika tidak berpartisipasi dan ikut menyelesaikan permasalahan-permasalahan manusia modern?

Untuk menutup esai, ada sepenggal ucapan Pramoedya di dalam sebuah novel,
"Sejarah belum pernah melaporkan kepada kita tentang ibu kandung Kartini. Mudah sekali dipahami demikian. Karena di masa penjajahan Belanda, dengan feodalisme Pribumi yang mendukungnya , orang akan merasa segan mengemukakan seorang wanita biasa dari kalangan rakyat jelata, mungkin juga masih buta huruf, yang hanya mempunyai satu hal yang menyebabkan ia dibedakan dari rakyat jelata lainnya: kecantikan dan keindahan tubuh."  ( Panggil Aku Kartini, 66)



Singkawang, 28  Januari 2018

Comments