Bloodmoon dan Nalar Kita

Sedang heboh fenomena super blue blood moon ya? Ketika manusia memerhatikan fenomena benda langit, maka akan muncul rasa takjub dan heran. Di masa kini, rasa takjub terhadap fenomena purnama ini bisa dijelaskan secara ilmiah. Bagaimana dengan masa lalu? 

Fenomena benda langit yang aneh dikaitkan dengan takhayul.
Iya, takhayul. Takhayul menjadi satu-satunya yang menjelaskan mengapa supermoon bisa terjadi, mengapa gerhana bisa terjadi. Kata orang zaman dulu, benda langit dimakan Dewa Betara Kala. Supaya benda langit tidak hilang dimakan Betara Kala, maka mereka membuat gaduh. Memukul panci atau mengguncang pohon supaya Betara Kala pergi.

Bahkan di kampungku, pohon yang belum/jarang berbuah diguncang kuat-kuat ketika gerhana. Supaya berbuah lebat, kata mamaku.

Upaya menjelaskan suatu fenomena dengan takhayul adalah asal mula cara berpikir ilmiah. Walaupun sederhana, takhayul sudah menggunakan konsep kausalitas. Konsep pertama yang digunakan dalam berpikir ilmiah.

Ketika zaman sudah berubah, apakah konsep takhayul masih relevan? Tentu tidak. Walaupun masih ada sebagian orang yang mempercayainya. Untuk menjelaskan bahwa gempa bumi adalah akibat kaum LGBT misalnya. 😉


Mau berpikir ilmiah atau percaya takhayul?  😎

Comments