Anies vs. Najwa Shihab




Beberapa hari lalu, Anies Baswedan dan Sandiaga Uno diundang oleh Najwa Shihab untuk berbincang di acara talkshow-n
ya. Setelah sukses dengan episode pertama yang menghadirkan para menteri dan para kepala daerah, kali ini Nana (panggilan akrab Najwa Shihab) mengundang Anies- Sandi untuk memperingati 100 hari kerja mereka.

Semua orang mungkin tahu dengan pembawaan Nana saat memandu acara. Framing sebagai host yang tegas dan rada galak terhadap narasumber sangat melekat pada dirinya lewat acara Mata Najwa di Metro Tv. Setelah pindah ke Trans Corp, ternyata gaya itu pun sama sekali tidak berubah. Untuk berbicara dengan politikus yang kerap berkelit, gaya Nana benar-benar disukai oleh banyak orang. Namun ada yang unik.

Tidak seperti biasanya, baru kali ini warganet bahkan Anies sendiri merasa tidak nyaman dengan pembawaan Nana ketika talkshow. Warganet menganggap bahwa Nana terlalu banyak menyela pendapat Anies, bahkan ada tim yang sengaja menghitung jumlah selaan Nana selama tujuh segmen tersebut. Tapi siapa pun bisa melihat, Anies sama sekali tidak bisa menguasai materi pembicaraan. Dia begitu gagu menjawab cecaran Nana.

Jika seorang insinyur atau pun master masih kelabakan ketika diwawancarai di muka umum, terutama jika ditanyai tentang apa saja yang dilakukan. Wajar saja, bahkan seorang doktor pun gagu ketika diminta penjelasan perihal apa yang telah diperbuatnya. Tapi di sisi lain, penulis pun benar benar takjub ketika Anies bisa tetap tenang saat dicecar pertanyaan oleh Najwa Shihab. Jika cecaran Nana tampak tidak biasa dan mengundang reaksi warganet, barangkali memang zaman sudah berubah.

Menelanjangi seorang pejabat publik, di muka umum kini telah menjadi hal yang biasa. Bukan menelanjangi dalam konotasi negatif. Meledaknya informasi dan teknologi menuntut seorang publik figur untuk betul-betul transparan di depan konstituennya. Gaya politikus lama yang kerap bermain di belakang isu tentu sudah ketinggalan zaman. Oh iya, jangan langsung berburuk sangka dengan Najwa. Setiap pertanyaan yang dilontarkannya telah ditelaah dengan dalam dan disampaikan pula kepada Anies sebelumnya.

Sebagai penutup, penulis menganggap masyarakat non-Jakarta mungkin tak perlu banyak angkat bicara. Termasuk lah penulis sendiri yang bukan warga Jakarta. Mereka yang hidup di ibukota dan jauh lebih pintar daripada kita, barangkali telah maklum dan paham, siapa yang hakikatnya pantas untuk duduk di balai kota.

Singkawang, 26 Januari 2018
Haries Pribady

Comments