100 FAKTA KESULTANAN SAMBAS

Disusun sebagai hadiah untuk yang hamba muliakan allahyarham Sultan Shariff Ali, allahyarham Sultan Bolkiah, allahyarham Sultan Tengah, allahyarham Raden Sulaiman, allahyarham Sultan Muhammad Tsafiuddin II, allahyarham Maharaja Imam Sambas Basuni Imran, allahyarham Syaikh Ahmad Khattib Asysyambassyi, dan allahyarham Abdul Rasyid Shah Irani
1. Kerajaan Sambas berdiri sekitar abad ke-5 M hingga abad ke-7 M, hampir bersamaan dengan berdirinya Kerajaan Batu Laras di Hulu Sungai Keriau yaitu sebelum berdirinya Kerajaan Tanjung Pura.
2. Kerajaan Islam Sambas atau yang disebut Kesultanan Sambas berdiri pada paruh kedua pertengahan abad ke-17 M.
3. Sambas dikenal sebagai sebuah negeri yang memiliki penguasa jauh sebelum berdirinya kesultanan pada tahun 1630 M.
4. Dalam sumber lokal disebutkan bahwa pada abad ke-14 M, Sambas adalah sebuah negeri yang diperintah oleh Raden Janur dengan pusat ibu kotanya berada di Paloh.
5. Eksistensi kerajaan ini setidaknya diketahui sampai datangnya pasukan Majapahit mulai tahun 1350-1364 M yang mendarat di Pantai Sambas bernama “Jawi” dan karena itulah tempat pendaratan tersebut sekarang disebut Jawai
6. Dengan datangnya pasukan Majapahit maka kekuasaan Raden Janur berakhir, sehingga dapat dikatakan sejak saat itu berdirilah Kerajaan Hindu Sambas.
7. Sambas adalah sebuah kerajaan yang eksis dalam jaringan perdagangan, dapat dilihat dengan kontrak perjanjian dagang antara Raja Sambas yakni Ratu Sepudak dengan Verenigde Oostindische Compagnie (VOC) pada tahun 1609 M dalam hal monopoli perdagangan emas.
8. Kesultanan Sambas tentu tidak bisa dilepaskan dari keterkaitannya dengan kekuasaan sebelumnya terutama kekuasaan Ratu Sepudak di Kerajaan Sambas Tua, Kerajaan Brunei dan Kerajaan Sukadana.
9. Kota Lama adalah ibu kota Kerajaan Sambas Tua yang ketika itu diperintah oleh Ratu Sepudak.
10. Hubungan terbina baik antaraRaja Tengah dengan Ratu Sepudak dan semakin dipererat dengan pernikahan antara anak Ratu Sepudak bernama Mas Ayu Bungsu dengan anak sulung Raja Tengah bernama Raden Sulaiman
11. Pernikahan Raden Sulaiman dengan Mas Ayu Bungsu memungkinkan penyebaran Islam secara signifikan.
12. Dengan masuknya Raden Sulaiman dalam struktur pemerintahan yang ketika itu diperintah oleh Ratu Anom Kesuma Yudha setelah meninggalnya Ratu Sepudak, setidaknya menunjukkan bahwa orang Islam akhirnya mampu menembus aristokrasi Kerajaan Sambas Tua.
13. Raden Sulaiman resmi dinobatkan sebagai sultan Kesultanan Sambas yang pertama yang bergelar Sultan Muhammad Syafiuddin I (1630-1669 M), pada tanggal 10 Dzulhijjah tahun 1040 H atau tahun 1630 M sekaligus menjadi awal kemunculan Kesultanan Sambas secara resmi.
14. Islamisasi di wilayah Kerajaan Sambas dapat dikatakan bermula sejak awal abad ke-15 M.
15. Islamisasi awal di Sambas juga memperlihatkan adanya arus Cina. Informasi tertua mengenai datangnya Islam ke Sambas yaitu pada abad ke-15 M yang dibawa oleh para pedagang Cina muslim yang diperkirakan sebagai anak buah Ceng Ho.
16. Pedagang Cina mendirikan komunitas muslim Hanafi di Sambas tahun 1407 M.
17. Sekitar abad ke-15 diperkirakan sudah ada para pedagang muslim yang bermukim di Sambas baik itu padagang Cina maupun pedagang Arab dan India.
18. Pada masa berkuasanya Raja Gipang mulai tahun 1484 M, dikatakan telah banyak rakyat Sambas yang memeluk Islam.
19. Menjelang akhir abad ke-16 M, baru ditemukan petunjuk bahwa Islam benar-benar sudah diterima oleh masyarakat setempat dengan ditemukannya arkeologi berupa bangunan masjid.
20. Masjid itu diperkirakan sebagai masjid pertama di Sambas yang didirikan oleh ulama dari Semenanjung dan Sumatra. Melihat adanya bangunan masjid di wilayah Sambas itu berarti telah semakin bertambahnya komunitas muslim dan Islam dapat dikatakan sudah berkembang cukup baik.
21. Oliver de Noor seorang berkebangsaan Belanda mengunjungi Kalimantan pada abad ke-16 M, mengatakan bahwa Islam merupakan agama yang populer di sepanjang pesisir pantai pulau tersebut.
22. Pada akhir abad ke-16 M, Islam mulai menyebar memasuki pusat-pusat pemerintahan. Diperkirakan Ratu Kerajaan Sambas Tua yaitu Ratu Anom Kesuma Yudha pada masa itu telah memeluk Islam secara individu untuk memudahkan urusan perniagaan dan mengembangkan hubungan baik dengan Johor maupun Brunei yang sudah masuk Islam
23. Jumlah masyarakat Islam pada masa ini telah berkembang dan semakin meningkat dengan diterimanya Raja Tengah beserta rombongan ke wilayah Kerajaan Sambas pada tahun 1620 M.
24. Ada beberapa alasan lain yang menyebabkan diterimanya Islam di Kerajaan Sambas Tua yaitu pertama, Raja Tengah merupakan anak Sultan Brunei dan Sambas pada masa itu berada di bawah pengaruhnya. Kedua, dikarenakan telah banyak orang-orang muslim lainnya terutama sejak pemerintahan Raja Gipang.
25. Kedatangan Raja Tengah pada awal abad ke-17 M menjadi awal islamisasi pada konteks Kerajaan Sambas yang menguatkan proses islamisasi pada masa awal.
26. Kemudian penyebaran Islam semakin lebih baik ketika diterimanya Islam oleh puteri Ratu Sepudak yang bernama Mas Ayu Bungsu saat menikah dengan anak Raja Tengah yang bernama Raden Sulaiman.
27. Meskipun sudah diterimanya Islam sebagai agama oleh puteri Ratu Sepudak, tidak berarti Islam lansung berkembang di lingkungan Istana karena corak Kerajaan Hindu masih tetap bertahan di Kota Lama sampai 10 tahun dari kedatangan Raja Tengah.
28. Penerimaan Islam oleh putri ratu setidaknya semakin menyuburkan berkembangnya Islam pada masyarakat.
29. Sebagai bukti telah diterimanya Islam di masyarakat dapat dilihat dengan adanya masjid di Kota Lama yang menandakan aktivitas keislaman telah berlansung di sana.
30. Masjid Jami Keraton Sambas dibangun oleh Sultan Umar Aqomuddin yang memerintah Negeri Sambas pada tahun 1702-1727 M.
31. Pada tahun 1407, di Sambas telah berdiri komunitas Cina muslim Hanafi (Chinese Community).
32. Masjid pertama yang dididirikan di Kalimantan Barat berada di Sambas.
33. Masjid Keraton Sambas sendiri awalnya merupakan rumah Sultan yang kemudian dijadikan musala.
34. Kemudian masjid kecil itu direnovasi oleh putranya, Sultan Muhammad Saifuddin dan dikembangkan menjadi masjid jami dan diresmikan pada tanggal 10 Oktober 1885 M.
35. Kerajaan yang bernama Sambas ada dalam tulisan tercantum dalam Kitab Negara Kertagama karya Prapanca.
36. Pada masa itu rajanya mempunyai gelaran "Nek" yaitu salah satunya bernama Nek Riuh.
37. Setelah masa Nek Riuh, pada sekitar abad ke- 15 M muncul pemerintahan Raja yang bernama Tan Unggal yang terkenal sangat kejam.
38. Karena kekejamannya ini Raja Tan Unggal kemudian dikudeta oleh rakyat dan setelah itu selama puluhan tahun rakyat di wilayah Sungai Sambas ini tidak mau mengangkat raja lagi.
39. Pada masa kekosongan pemerintahan di wilayah Sungai Sambas inilah kemudian pada awal abad ke-16 M (1530 M) dating serombongan besar Bangsawan Jawa (sekitar lebih dari 500 orang) yang diperkirakan adalah Bangsawan Majapahit yang masih Hindu
melarikan diri dari Pulau Jawa (Jawa bagian timur) karena ditumpas oleh pasukan Kesultanan Demak di bawah Sultan Demak ke-3 yaitu Sultan Trenggono.
40. Pada saat itu di pesisir dan tengah wilayah Sungai Sambas ini telah sejak ratusan tahun didiami oleh orang-orang Melayu yang telah mengalami asimilasi dengan orang-orang Dayak pesisir di mana karena saat itu wilayah ini sedang tidak ber-Raja (sepeninggal Raja Tan Unggal) maka kedatangan rombongan Bangsawan Majapahit ini berjalan mulus tanpa menimbulkan konflik.
41. Rombongan Bangsawan Majapahit ini kemudian menetap di hulu Sungai Sambas yaitu di suatu tempat yang sekarang disebut dengan nama “Kota Lama”.
42. Setelah sekitar lebih dari 10 tahun menetap di “Kota Lama” dan melihat keadaan wilayah Sungai Sambas ini aman dan kondusif maka kemudian para Bangsawan Majapahit ini mendirikan sebuah Panembahan / Kerajaan Hindu yang kemudian disebut dengan nama “Panembahan Sambas”.
43. Raja Panembahan Sambas ini bergelar “Ratu” (Raja Laki-laki) di mana Raja yang pertama tidak diketahui namanya yang kemudian setelah wafat digantikan oleh anaknya yang bergelar Ratu Timbang Paseban, setelah Ratu Timbang Paseban wafat lalu digantikan oleh adiknya yang bergelar Ratu Sapudak.
44. Pada masa Ratu Sapudak inilah untuk pertama kalinya diadakan kerjasama perdagangan antara Panembahan Sambas ini dengan VOC yaitu pada tahun 1609 m.
45. Pada masa Ratu Sapudak rombongan Sultan Tengah (Sultan Sarawak ke-1) bin Sultan Muhammad Hasan (Sultan Brunei ke-9) datang dari Kesultanan Sukadana ke wilayah Sungai Sambas dan kemudian menetap di wilayah Sungai Sambas ini (daerah Kembayat Sri Negara.
46. Anak laki-laki sulung Sultan Tengah yang bernama Sulaiman kemudian dinikahkan dengan anak bungsu Ratu Sapudak yang bernama Mas Ayu Bungsu sehingga nama Sulaiman kemudian berubah menjadi Raden Sulaiman. Raden Sulaiman inilah yang kemudian setelah keruntuhan Panembahan Sambas di Kota Lama mendirikan Kerajaan baru yaitu Kesultanan Sambas dengan Raden Sulaiman menjadi Sultan Sambas pertama bergelar Sultan Muhammad Shafiuddin I yaitu pada tahun 1671 M.
47. Berdasarkan data-data yang ada, urutan kerajaan yang pernah berdiri di wilayah Sungai Sambas dan sekitarnya sampai dengan terbentuknya Negara Republik Indonesia adalah : 1) Kerajaan Wijaya Pura sekitar abad 7 M - 9 M; 2) Kerajaan Nek Riuh sekitar abad 13 M - 14 M; 3) Kerajaan Tan Unggal sekitar abad 15 M; 4) Panembahan Sambas pada abad 16 M; dan 5) Kesultanan Sambas pada abad 17 M - 20 M.
48. Sejarah masjid di Sambas ternyata baru ada dalam informasi data pada abad 16 M. Ini artinya sekalipun ada data yang menunjukkan bahwa komunitas Islam telah ada di Sambas sejak 1407, namun data masjid baru ada seabad kemudian.
49. Menurut buku Kesultanan Sambas tahun 2001, masjid pertama kali didirikan di daerah Sambas adalah di Kota Bangun pada akhir abad 16 yang dibangun oleh ulama dari Semenanjung dan Sumatera. Lokasinya sampai sekarang masih ada.
50. Kota Bangun adalah kota penyangga dari Ratu Sepudak yang berpusat di Kota Lama. Di tempat ini Raden Sulaiman tinggal selama di lingkungan kerajaan Panembahan Sambas yang beragama Hindu, sebelum pada waktunya nanti Raden Sulaiman mendirikan Kesultanan Sambas.
51. Pada masa Sultan Umar Akamudin I (1702-1727) dibangun masjid baru menggantikan posisi sentral masjid lama di Muara Ulakan. Masjid itu diberi nama masjid “Kamasallaita”. Lokasinya kalau dilihat dari peta sekarang berada di pinggir sungai yang letaknya kurang lebih 100 meter dari Masjid Kraton Sambas dan berada di luar pagar keraton. Saat ini ditempati bangunan tempat kantin atau kedai para pengunjung atau wisatawan yang ingin menatap Keraton Sambas dari tepian Sungai Sambas.
52. Dalam perkembangan awalnya lingkungan di pusat pemerintahan Kesultanan Sambas yang baru berdiri ini sebagian besar adalah orang-orang Jawa dari Panembahan Sambas. Hal ini menyebabkan adat istiadat di lingkungan Keraton Kesultanan Sambas saat itu didominasi oleh adat istiadat dan budaya Jawa seperti penamaan gelar-gelar Kebangsawanan dan nama-nama keluarga Kesultanan yang bernuansa budaya Jawa.
53. Masjid Jami Keraton Sambas ini awalnya merupakan rumah Sultan yang kemudian dijadikan musala. Dibangun oleh Sultan Umar Aqomuddin yang memerintah Negeri Sambas pada tahun 1702-1727 Masehi, kemudian masjid kecil itu direnovasi oleh putranya, Sultan Muhammad Saifuddin dan dikembangkan menjadi masjid jami dan diresmikan pada tanggal 10 Oktober 1885 M. Masjid ini tercatat sebagai salah satu masjid tua di Kalimantan Barat.
54. Warna Keislaman Kalimantan Barat, khususnya Sambas, lebih dikenal sebagai Islam dalam warna tarekat di bawah pengaruh kharisma tokoh besar Ahmad Khatib As-Sambasi (lahir, 1803), seorang pemimpin tarekat Qadiriyah Naqsabandiyah yang pengaruhnya banyak disebut-sebut meliputi Islam di wilayah Asean.
55. Sebelumnya pengaruh tasawuf di Kalimantan Barat telah disemaikan oleh Syaikh Abdul Jalil al-Fatani yang dimakamkan di daerah Lumbang, Sambas. Pengaruh kental tasawuf di Kalimantan Barat, di waktu berikutnya mulai tergeser dengan paham pembaharuan Islam yang justru dipelopori dari tanah kelahiran Ahmad Khattib, yaitu di Sambas. Gerakan itu diawali oleh sosok dari Maharaja Imam Masjid Kraton Sambas, yaitu Muhammad Baisuni Imran. M. Baisuni Imran lahir pada tahun 1885 bertepatan dengan saat pembangunan Masjid Kraton Sambas yang dilakukan oleh Sultan Shafiudin II. Baisuni Imran saat muda sempat belajar ke Timur Tengah (1901-1906) dan berkenalan dengan pemikiran Jamaludin al-Afgani, Muhammad Abduh dan Rashid Ridho. Dia termasukmpengagum dari gagasan mereka. Pada tahun 1909, Baisuni Imran belajar ke Al-Azhar mesir. Menurut Pijper, bahkan Baisuni Imran sempat diajar oleh Rashid Ridho.
56. Pada tahun 1913, Baisuni Imran dipanggil pulang ke Sambas, karena orang tuanya sakit keras.
57. Dalam waktu yang bersamaan, Baisuni Imran dipangil dan diangkat oleh Sultan sebagai Maharaja Imam Masjid Kraton Sambas.
58. Pada tanggal 9 Nopember 1913, sehabis sholat Jum’at ia dilantik oleh Sultan untuk memegang amanah sebagai Maharaja Imam tersebut. Semenjak saat itu Baisuni Imran melakukan usaha-usaha pembaharuan Islam di Sambas. Usaha-usaha itu meliputi ceramah yang dia lakukan, tulisan-tulisan bahkan melalui lembaga pendidikan “Tarbiatoel Islam”. Khusus di bidang karya tulis, banyak tulisan yang dia tinggalkan seperti Tarjamah Durμs at- T±r³kh as-Syar³‘ah, Khul±¡ah S³rah al-Mu¥ammadiyah, Durμs at- Tauh³d. Beberapa pemikiran baru yang dia kenalkan antara lain: bahwa sholat Jum’at boleh dilakukan oleh jamaah yang kurang dari 40 orang, pembacaan taqlik talak dalam perkawinan tidak perlu dilakukan dan proses faskh dalam perkawinan harus diajukan ke lembaga agama, serta penetapan awal bulan dengan hitungan.
59. Masjid Kraton Sambas mempunyai nama lengkap Masjid Agung Jami Sultan Shafiuddin II Sambas. Nama ini dinisbahkan kepada nama raja ke delapan dari Kesultanan Sambas, yaitu Sultan Shafiuddin II. Sultan inilah yang mensponsori pembangunan masjid yang bentuknya dipertahankan sampai sekarang. Masjid terbuat dari bahan utama kayu. Hampir semua unsurnya adalah kayu dimulai dari kerangka, lantai, dinding hingga atap semuanya berbahan baku dari kayu. Kayu yang dipilih adalah kayu Belian, kayu dengan kualitas terbaik dari hutan Kalimantan. Masjid ini mampu menampung 1600 jamaah dengan menggunakan lantai dasar dan lantai kedua.
60. buku “Lim±©± Ta’akhkhara al-Muslimμn, wa Taqaddam Gairuhum”, karya Akib Arselan berasal dari judul surat Imam Masjid Kraton Sambas yang menulis surat kepada Muhammad Abduh dengan judul tersebut. Masjid Kraton Sambas merupakan perpaduan budaya dari berbagai belahan dunia yang disimbolkan melalui beberapa benda masjid dari tempat asalnya. Beberapa benda tersebut menjadi keunikan dan kekhasan yang perlu diketahui oleh khalayak. Beberapa benda itu antara lain: mimbar yang merupakan sumbangan dari pelaut Palembang; bejana tempat wudhu yang konon didatangkan dari Kesultanan Brunai; kubah yang konon bentuknya mirip kubah di Muangthai; dan bedug yang merupakan penerimaan budaya Tionghoa yang diakomodasi melalui penerimaan bedug oleh Islam di Jawa. Akumulasi bendabenda ini menjadikan Masjid Kraton Sambas merupakan perpaduan simbolis dari budaya berbagai negeri. Karenanya, budaya kosmopolitan sudah nampak dalam arsitektur Masjid Keraton Sambas.
61. Sultan Muhammad Syafiuddin II adalah penguasa Kesultanan Sambas yang menjalankan pemerintahannya selama lebih dari setengah abad.
62. Secara formal, Kesultanan Sambas eksis dalam panggung sejarah kurang lebih tiga abad (1630-1943) dan telah dipimpin oleh 15 orang sultan.
63. Sebagai kesultanan yang menjadikan Islam landasan ideologinya, para sultan Sambas menerapkan konsep pembangunan masyarakat berdasarkan adat istiadat yang bersendikan syariat Islam.
64. Di Kesultanan Sambas dikenal kitab Qanun sebagai wujud perpaduan adat istiadat dengan syariat Islam yang menjadi undang-undang kesultanan.
65. Kemajuan Sambas saat itu diasumsikan salah satunya karena kepemimpinan yang dijalankan sultan, sehingga berhasil menjadikan Sambas sebagai pusat ilmu dan kebudayaan Melayu yang berlandaskan Islam.
66. Karena itu, Sultan Muhammad Syafiuddin II dalam tradisi masyarakat selalu dihubungkan dengan masa keemasan Kesultanan Sambas.
67. Sultan Muhammad Syafiuddin II memiliki nama kecil yaitu Afifin atau Afifuddin yang mendapat tambahan gelar Raden sebagaimana lazim digunakan oleh putra-putri sultan sebagai tanda kebangsawanannya.
68. Jika dihubungkan dengan masa kerajaan Sambas Tua yang konon rajanya berasal dari Jawa, maka gelar raden mungkin sekali adalah peninggalan tradisi Jawa dari pendahulu Kesultanan Sambas
69. Raden Afifudin lahir saat situasi Kesultanan Sambas dianggap menurun secara politik, kondisi ini disebabkan paling tidak oleh dua faktor. Pertama, semakin meningkatnya kekuatan Cina kongsi yang ditandai dengan pembentukan federasi Foe Sjoen tahun 1808. Kedua, masuknya pengaruh Belanda sejak ditandatanganinya kontrak perjanjian dengan sultan Sambas tahun 1818.
70. Dalam abad XIX banyak negara atau kerajaan pribumi masuk di bawah kedaulatan Pemerintah Hindia Belanda, berdasarkan sebuah perjanjian yang dikenal sebagai Pernyataan Panjang (lange verklaring) dan Pernyataan Pendek (korte verklaring). Dari ketentuan tersebut Pemerintah Hindia-Belanda mempunyai wewenang untuk mengarahkan dan mengawasi, melalui pejabat-pejabat sipil yang bertindak sebagai utusan (ambassadeur) dan penasihat (adviseur) bagi raja atau kepala negara tersebut, Sartono Kartodirdjo (1999: 347). Demikian halnya kekuasaan Sultan Sambas sudah dapat dipastikan berada dalam pengawasan pejabat sipil Belanda, yang mulai tanggal 11 Mei 1820 telah datang ke Sambas seorang Asisten Residen bernama Goodman.
71. Pada tahun 1848 ketika usianya masih belia yaitu tujuh tahun, Raden Afifuddin diangkat sebagai putra mahkota melalui persetujuan Pemerintah Hindia Belanda dengan gelar Pangeran Adipati,
72. Kehidupan Raden Afifuddin muda sesungguhnya kurang beruntung, karena memburuknya situasi politik Kesultanan Sambas saat itu. Kondisi itu disebabkan paling tidak oleh dua peristiwa. Pertama, pemberontakan kongsi pertambangan emas Cina yang terjadi sebanyak dua kali selama masa pemerintahan Sultan Abu Bakar Tajuddin II (1846-1855), yaitu tahun 1850 dan 1853 yang bertujuan agar Sultan Sambas tidak campur tangan dalam pertambangan emas yang mereka usahakan, (Ansar Rahman, et.al. 2001: 72). Dua peristiwa tersebut meninggalkan kesan bahwa kekuatan kongsi pertambangan emas Cina benar-benar menjadi ancaman kesultanan, sehingga sultan yang berkuasa terpaksa meminta bantuan pemerintah kolonial. Pemberontakan tersebut baru berhasil ditumpas oleh tentara kolonial pada tahun 1854. Kedua, perselisihan keluarga yang belum diketahui pasti motifnya. Apabila ditelusuri dalam beberapa tulisan sejarawan lokal, akar perselisihan keluarga itu dipicu oleh persoalan ekonomi.
73. Melalui Bupati (regentschap) Galuh yaitu Raden Adipati Aria Kusumadiningrat yang dikenal cakap dan berwawasan luas, Raden Afifuddin belajar tulis menulis dan membaca huruf Latin serta pelajaran tentang seluk beluk pemerintahan dan tatanegara.
74. Raden Afifuddin juga memperoleh pelajaran berhitung dan bahasa Sunda dari seorang juru tulis, Mas Sumadibjo. Sedangkan ilmu ukur (meetkunde), ilmu hukum (rechtskunde), dan ilmu logika diperoleh dari seorang pejabat Belanda R. C. van Prehn Wiese (asisten residen di Ciamis).
75. Tahun 1860 pemerintah Belanda secara khusus membawa Raden Afifuddin untuk diserahkan kepada Pangeran Syarif Abdullah al-Qadri di Batavia agar dididik tentang adat istiadat raja-raja, kitab yang dipelajarinya terutama adalah Taj al-Salatin. Taj al-Salatin adalah sebuah kitab yang isinya memuat berbagai macam hikmat dan kata mutiara yang berhubungan dengan adat dan etika elit atau kerajaan, (Karel A. Steebrink, 1988: 136-137).
76. Pendidikan di Batavia ditempuh selama kurang lebih satu tahun, hingga pada tahun 1861 Gubernur Jenderal Belanda mengangkat Raden Afifuddin sebagai Sultan Muda.
77. Sultan Muda mengawali karir politiknya sebagai wakil Pangeran Bendahara Sri Maharaja. Mungkin sepanjang sejarah pemerintahan di Kesultanan Sambas, baru pada masa itu muncul jabatan wakil Pangeran Bendahara Sri Maharaja. Sultan Muda ketika itu berusia kurang lebih 20 tahun, usia yang dianggap belum cukup matang untuk menduduki jabatan sultan. Oleh karena itu, pemerintah kolonial menempatkannya sebagai wakil Pangeran Bendahara dengan tujuan untuk menempa jiwa kepemimpinan dan membiasakannya dalam kehidupan politik dan pemerintahan. Lima tahun menempati jabatan Wakil Pangeran Bendahara, akhirnya Sultan Muda diangkat sebagai sultan Sambas ke-13 dengan gelar Sultan Muhammad Syafiuddin II pada tanggal 6 Agustus 1866. (ANRI, 1888: 283). Mengenai tradisi penobatan sultan perlu diungkapkan bahwa meskipun tercatat dalam sumber lokal sebagai tata cara turun menurun, namun sangat mungkin tradisi tersebut telah mengalami perubahan setelah masuknya pengaruh Belanda. Paling tidak mengalami penyesuaian terkait keberadaan pejabat-pejabat sipil Belanda. Ita Syamtasiyah Ahyat (tth.: 432), mengemukakan bahwa sejak kesultanan-kesultanan di daerah ini menandatangani kontrak pengakuan pertuanan (contract tot erkening van heerscappij), maka sejak itu pula sistem administrasi dan tata pemerintahan kesultanan harus disesuaikan dengan dasar dan sistem administrasi yang dikeluarkan Gubernur Jenderal Hindia Belanda di Batavia, termasuk di dalamnya adalah tata cara penobatan sultan.
78. Dalam masyarakat Melayu tradisional, istana merupakan pusat adat istiadat dan kebudayaan. (Bakran Sunni, et. al. 2007: 53). Karenanya, sepanjang sejarah berdirinya istana alwatzikhoebillah Sambas, ia telah memainkan peran dan menampilkan berbagai fungsi. Selain sebagai tempat tinggal sultan dan pusat pemerintahan, diketahui pula bahwa istana digunakan sebagai tempat penyelenggaraan pendidikan Islam secara tradisional.
79. pada masa kepemimpinan Sultan Muhammad Syafiuddin II, istana juga memiliki fungsi baru sebagai rumah rakyat yang selalu terbuka untuk melayani dan memberikan rasa keadilan bagi seluruh rakyatnya.
80. Sultan Muhammad Syafiuddin II mengadakan perjanjian dengan Raja Sanggau tentang batas-batas wilayah antara Kesultanan Sambas dengan Kerajaan Sanggau pada tahun 1887.
81. Isi perjanjian kerjasama itu tercakup dalam 13 butir kesepakatan mengenai tanda-tanda batas wilayah dua kerajaan tersebut. Perjanjian kerjasama tersebut merupakan upaya positif paling tidak untuk menghindari perselisihan perbatasan yang dapat berdampak buruk bagi hubungan antar kerajaan, seperti yang pernah terjadi dengan Kerajaan Mempawah pada akhir abad XVIII.
82. Madrasah Sulthaniyah didirikan oleh Sultan Muhammad Syafiuddin II pada tahun 1868, dua tahun setelah dinobatkan menjadi Sultan Sambas ke-13.
83. Pembentukan lembaga keulamaan di Kesultanan Sambas adalah tahun 1869.
84. Tujuan dibentuknya lembaga keulamaan adalah untuk menjamin pembinaan keagaman dikesultanan Sambas. Kebijakan itu merupakan penyempurnaan karena lembaga keulamaan di Kesultanan Sambas secara resmi telah dibentuk pada masa Muhammad Ali Syafiuddin I, sultan Sambas ke-8 sekitar awal abad XIX dengan nama Imam Kesultanan, bahkan cikal bakalnya sudah ada sejak akhir abad XVIII yaitu masa Sultan Umar Aqamuddin II. Lembaga keulamaan itu sebagaimana telah disebutkan dalam kutipan di atas, dijabat oleh seorang ulama yang diberi gelar Maharaja Imam (hakim dan kepala urusan agama Islam), saat itu ulama yang mendapat kepercayaan sultan ialah Haji Muhammad Arif putra imam kesultanan dan tercatat sebagai Maharaja Imam pertama di Kesultanan Sambas.
85. Sultan Muhammad Syafiuddin II selain diakui sebagai negarawan juga sebagai agamawan, ia seorang pengamal Tarekat Qadiriyah wa Naqsabandiyah (TQN) ajaran seorang ulama asal Sambas yang bermukim di Mekkah bernama Ahmad Khatib Sambas (1803-1875).
86. Pengaruh kepemimpinan kharismatik Sultan Muhammad Syafiuddin II terhadap rakyat antara lain bersumber dari idiosyncretic power, yaitu kekuatan temperamen pemimpin yang istimewa, atau dengan kata lain pengaruh yang lebih banyak ditentukan oleh kualitas pribadi. Karenanya bagi masyarakat Sambas, Sultan Muhammad Syafiuddin II adalah pemimpin yang memiliki kepribadian istimewa, dimuliakan oleh rakyat karena budi bahasanya yang lembut dan sikapnya yang ramah, serta dikenal dengan kebijakannya yang menyentuh rakyat.
87. Kerajaan Sambas umpamanya adalah merupakan maritim-based-kingdom. Sepanjang sejarah perjalanan Kerajaan Sambas, baik ketika masih beribu kota di Kota Lama maupun pasca perpindahan di Lubuk Madung-Muarê Ulakan, Sambas masih tetap sebagai maritim-based-kingdom.
88. Dalam ritus budaya masyarakat Melayu Sambas, simbol perahu juga merupakan bagian penting, terutama dalam masyarakat Paloh yang melestarikan tradisi Antar Ajong telah diyakini sebagai tradisi turun-temurun dari moyang mereka. Bagi masyarakat paloh, Antar Ajongmerupakan upaya memperingati tradisi tahunan raja dalam rangka mengantarkan upeti pada kerajaan majapajit di Jawa.
89. Naskah kuno tafsir surat tujuh ini merupakan salah satu mahakarya ulama Kalimantan Barat pada bidang studi al-Quran di awal abad 20, selain tafsir ayat puasa. Naskah ini dikarang oleh Maharaja Imam, Muhammad Basiuni Imran yang ditulis tangan langsung dengan menggunakan bahasa Melayu beraksara Arab Melayu (Jawi) yang ditemukan di museum Tamadun Islam, yang dulunya adalah rumah tempat tinggal Maharaja Imam Sambas, Muhammad Basiuni Imran pada Juni 2010 dan kini masih tersimpan dan dapat kita jumpai hingga saat ini.
90. Naskah ini merupakan naskah tulis tangan yang ditulis langsung oleh Maharaja Imam Sambas,H. Muhammad Basiuni Imran pada tahun 1935 M. Penamaan naskah ini dengan nama “Tafsir Surah Tujuh Karya Muhammad Basiuni Imran” adalah nama yang penulis beri sendiri mengingat dikalimat pembuka tentang alasan beliau mempriorotaskan menafsirkan enam surah pendek ditambah al-Fatihah. Karya beliau yang terkait dengan studi al-Quran (pemahaman teks al-Quran) yang ditulis beliau ini, lebih dominan pada upaya interpretasi surah-surah pendek al-Quran, meskipun dalam naskah ini tidak dipungkiri ada juga ayat-ayat tertentu yang terpilihkan oleh beliau Naskah tafsir surat tujuh ini, secara tematik berisikan tentang teologi dan amal shaleh, seperti pemurnian aqidah (tauhidiyyah), kepercayaan pada hal yang ghaib dan hari kemudian, ketergantungan yang hanya pada Allah semata, berbuat baik. Dan tema lainnya seperti tentang kebutaaksaraan orang Arab pada masa Nabi Muhammad atau sebelumnya yang kemudian dicerdaskan dengan hadirnya beliau sebagai penyelamatnya. Sementara itu pola metode tafsir surat tujuh yang dikarang oleh H. Muhammad Basiuni Imran ini secara metodologi pemahaman teks al-Quran, terkesan lebih bebas dan tidak terikat pada metodologi klasik, jika pun ada hanya metode munasabah lah yang dipergunakan, itupun tidak terlihat secara konsisten. Selain itu metode ijmali juga tampak sekali juga beliau pergunakan, yang dapat terlihat dalam analisa leksikal-linguistik teks sebagaimana kitab-kitab tafsir klasik dengan wajah interpetasi bahasanya, seperti Jalauddin al-Mahalli (w. 864 H) dan Jalaluddin al-Suyuthi (w. 911 H) yang mempublikasikan kitab tafsir yang popular di bawah judul Tafsir Jalalain, Tafsir al-Quran al-Karim dan al-Tafsir al-Wasith yang dipublikasikan oleh tim Majma’ al-Buhuts al-Islamiyah.
91. Pada abad ke-20, di Kalimantan Barat terdapat ulama-ulama yang menjadi rujukan inteletual Islam tidak saja ulama-ulama Nusantara namun juga ulama-ulama dunia. Dintaranya Muhammad Basuni bin Muhammad `Imran, al-Sambasi (1885-1953 M) dan Guru Haji Isma’il Mundu (1870 – 1957 M).
92. Basuni Imran hidup sezaman dan seguru dengan beberapa tokoh pembaharuan Indonesia lainnya seperti K.H. Ahmad Dahlan (lahir 1869) pendiri Muhammadiyah, K.H. Hashim ‘Ash`ari (lahir 1887) pendiri Nahdah al-‘Ulama (NU), hanya saja para tokoh-tokoh nasional sezamannya ini, lebih banyak berperanan pada oraganisasi-organisasi kemasyarakatan Islam, sedang Sheikh Muhammad Basuni lebih banyak berperanan di kerajaan atau kesultanan Sambas. G.F. Pijper mengatakan: “Pandangan H. Muhammad Basuni ‘Imran telah mewakili reformasi Mesir dengan sebenar di Indonesia” (Pijper, 1977: 134; Musa, 2003: 39). Justru Sheikh Muhammad Basuni ‘Imran semakin dikenali di alam Melayu khususnya dan dunia Islam pada umumnya, saat pertanyaan beliau kepada majalah al-Manar tentang “Limadha taakhara al-Muslimuna wa limadha taqaddama ghairuhum?” (Mengapa Ummat Islam mundur dan orang lain maju?)”
menjadi tajuk buku dengan judul yang sama yang ditulis oleh Amir Shakib Arselan (1869-1945).
93. Buya H. Abdul Malik Karim Amrullah (HAMKA) menyatakan bahwa Sheikh Muhammad Basuni ‘Imran merupakan “mutiara yang terpendam, ilmu dan pengetahuan Basuni Imran sungguh dalam dan luas ” (Isma’il: 38). Rekan seusianya iaitu H. Agus Salim pernah mengatakan: “Andai saja Maharaja Imam Haji Muhammad Basuni ‘Imran duduk berdiam di Jakarta, ilmu dan pengetahuannya akan dapat lebih bermanfaat dan lebih mudah dikembangkan” (Efendi, 1995: 16). Kefasihannya dalam berbahasa Arab juga telah mendapati pujian daripada Prof. Kahar Mudhakkir, guru besar “IAIN Sunan Kalidjaga Yogyakarta”, pada saat Sheikh Muhammad Basuni ‘Imran memberikan kuliah umum, ia mengatakan: “Bahasa Arab Basuni Imran sangat dipujikan” (Efendi, 1995: 16), demikian juga kalimat pujian Mahmud Yunus yang menyatakan bahwa H. Muhammad Basuni ‘Imran adalah seorang ulama besar di Sambas (Yunus, 1996: 344). Jaringan intelektual sheikh Basuni Imran berawal dari perjalanan intelektualnya pada tahun 1901 M Maharaja Imam Sambas, saat H. Muhammad ‘Imran mengirim puteranya yakni Muhammad Basuni ke Mekkah untuk menunaikan ibadah haji dan meneruskan belajar di sana, usianya ketika itu sekitar 16-17 tahun, Sheikh Muhammad Basuni menempuh masa studi di Mekah selama lima tahun (1319-1324H/1901-1906M).
94. Pada tahun 1324H/1906M beliau pulang ke Sambas atas perintah ayahnya, sejak itu beliau banyak membaca berbagai buku dari Mesir dan juga majalah Al-Manar yang dipimpin oleh Sayyid Muhammad Rashid Rida. Empat tahun kemudian tepatnya pada bulan Dhulkaidah 1328H/November-Desember 1910 M, beliau berangkat ke Kairo Mesir bersama-sama dengan H. Ahmad Fauzi (kakak) dan H. Ahmad Su`ud untuk menuntut ilmu (Pijper, 1984: 143-144).Selama di Mesir, Syeikh Muhammad Basuni meneruskan studi di universitas al-Azhar, kemudian di Madrasah Dar al-Da`wah wa al-Irsyad (sekolah kader da`i) yang didirikan oleh Muhammad Rashid Rida selama 6 bulan, ia juga terlibat aktif dalam redaksi majalah Al-Manar dan al-Ijtihad ( Ismail: 19). Selama lebih kurang 4 tahun belajar di Mesir, Syeikh Basuni telah mendapati dua ijazah daripada dari Sayyid M. Ramadan al-Sadfi salah seorang ulama al-Azhar, dan dari Sayyid Muhammad Rashid Rida dari al-Manar (Pijper, 1984: 145-146). Jaringan intelektual yang demikian luas terutama di kawasan yang berperanan sebagai pusat reformasi Islam iaitu Mekah, Madinah dan juga Cairo. Ketiga tempat tersebut menjadi “panci pelebur” (melting pot) berbagai “tradisi kecil Islam” (Islamic little tradition) untuk membentuk suatu sintesis baru yang lebih dekat kepada “tradisi besar Islam” (Islamic great tradition) (Azra, 2007: 75), telah memberikan pengaruh yang sangat kuat terhadap corak utama intelektual Islam yang coba ditawarkan oleh Sheikh Basuni Imran, yaitu corak intelektual Islam yang bermuara kepada keteguhan kaum tradisionalis (tradisionalism)7 dan keterbukaan kaum reformis (inklusifism), sangat menghargai Turath (warisan ilmu para ulama), namun fleksibel dalam wasilah dan sarana, kukuh dalam thawabit (perkara-perkara yang tetap) namun lentur dalam mutaghayyirat (perkara yang berubah),8apa yang oleh Pabali dinyatakan sebagai bingkai universalisme keilmuan (Musa, 2002: 42).9
95. Sheikh Muhammad Basuni ‘Imran antara ulama yang cukup produktif dalam menghasilkan karya-karya tulis, yang sebagian besarnya telah diterbitkan oleh percetakan al- Ahmadiyah Singapura sama ada yang berbahasa arab mahupun melayu dan terdapat beberapa karya yang diterbitkan di percetakan al-Manar Kairo Mesir. Antara karya-karyanya adalah Tarjamah Durus Tarikh al-Shari`at, Kitab Bidayah al-Tawhid fi `Ilm al-Tawhid, Risalah Cahaya Suluh. Pada Mendirikan Jum`at Kurang daripada Empat Puluh, Tadhkir Sabil al-Najah fiTarikh al-Salah, Khulasah al-Sirah al-Muhammadiyah, (Hakikat Seruan Islam, ringkasan sejarah Muhammad, hakikat seruan Islam), Terjemah kitab Dhikra al-Mawlid al-Nabawy karya Muhammad Rashid Rida, Nur al-Siraj fi Qissah al-Isra’ wa al-Mi`raj (cahaya pelita pada cerita Isra’ dan Mi`raj), Kitab al-Jana’iz, (kitab tentang jenazah), Manhal al-Gharibin fi Iqamah al- Jumu`ah bima duni al-Arba`in, Al-Tadhkirah al-Badi`ah fi Ahkam al-Jumu`ah, Al-Nusus wa al- Barahin `ala Iqamah al-Jumu`ah bima duna al-Arba`in, Durus al-Tawhid, (pelajaran-pelajaran Tauhid), Irshad al-Ghilman fi Adab Tilawah al-Qur’an, Husn al-Jawab `an Ithbat al-Ahillah bi al-Hisab, (molek jawaban tentang menetapkan awal bulan dengan hitungan), Daw`u al-Misbah fi faskh al-Nikah, (sinar lampu untuk membatalkan suatu pernikahan) (Efendi, 1995: 16; Pijper, 1984: 145; Muiz: 19; Musa, 2003: 7).
96. Terdapat beberapa jabatan penting semasa hidup Sheikh Basuni ‘Imran antaranya Maharaja Imam di kesultanan Sambas (1913-1946 M), Kepala Madrasah al-Sultaniyah (1919- 1935 M), Adviseur Cammissie voor ZelfBestuur (1946-1950 M), Penata hukum tingkat I atau ketua pengadilan agama Mahkamah syariah Kalimantan Barat (1966-1975 M), Anggota Konstituante Republik Indonesia wakil daripada partai Mashumi (Majelis Shuro Muslimin Indonesia) Kalimantan Barat hasil daripada pemilu I, tahun 1955 (Efendi, 1995:16; Pijper, 1984: 145; Muiz:19; Musa, 2003:7).
97. Sumber yang digunakan oleh kaum sejarawan untuk melacak riwayat Kesultanan Sambas di Kalimantan Barat adalah dua kitab sastra bercorak sejarah, yaitu Asal Raja-Raja Sambas dan Salasilah Kerajaan Sambas
98. Ekspedisi Pamalayu Majapahit pada abad ke-14 M sangat berpengaruh terhadap berdirinya Kerajaan Sambas Tua yang diawali oleh pemerintahan yang dipimpin Raden Janur dengan pusat pemerintahan di daerah bernama Paloh
99. Kejatuhan Kesultanan Sambas bermula daripada 1 Oktober 1696 M, wakil Belanda, Samuel Bloemaert, mengadakan perjanjian dagang dengan Kesultanan Sambas yang lebih banyak menguntungkan pihak Belanda. Belanda dengan mudah membawa hasil hutan dan emas dari Sambas menggunakan kapal-kapal besar untuk dibawa ke Batavia sebagai pusat pemerintahan jajahan Belanda. Hal ini membuat rakyat menjadi miskin walaupun memiliki hasil hutan dan emas yang melimpah. Rakyat marah dan melakukan perlawanan kepada pihak kolonial yang dipimpin oleh Pangeran Anom dengan gelar Sultan Muhammad Ali Syafiudin I yang memerintah (1815-1828). Menelusuri jejak peradaban Melayu Sambas melalui lagu didapati telah memberikan sumbangan yang besar sebagai tonggak dalam penyelidikan bidang-bidang arkeologi, naskah, budaya, teknologi dan pengkajian sejarah yang lain. Perjalanan evolusi sebuah lagu sampai kini menunjukkan bahwa identitas Melayu tercipta dan terbentuk daripada kepelbagaian suku bangsa, bahasa, dan budaya yang disatukan oleh Islam (Melayu adalah Islam dan Islam adalah Melayu) dalam satu komunitas besar yang menghiasi Nusantara khususnya di Kabupaten Sambas dan dunia umumnya.
100. Lagu ‘Kapal Belon’ mengisahkan tentang peristiwa kapal yang teramat besar dari Sambas keluar negara mengangkut berbagai barang ekspor Kesultanan Sambas. Cerita yang ingin dikisahkan adalah mengenai sistem pengangkutan air yang sangat penting pada masa dahulu untuk tujuan perdagangan antara bangsa. Hasil penyelidikan membuktikan bahwa kisah kapal besar yang digunakan itu terbukti kebenarannya. Sebagaimana dalam surat Sultan Kasim Alqadri kepada Sir Stamford Raffles pada 14 Februari 1811, 12 Maret 1811, dan 22 Maret 1811. Sultan Syarif Kasim Alqadrie adalah sultan yang memerintah kesultanan Pontianak dari tahun 1808 – 1819. Baginda merupakan sultan kedua setelah ayahandanya Sultan Syarif Abdurrahman Alqadrie mendirikan kesultanan Pontianak pada 23 Oktober 1771 Masehi bertepatan 12 hari bulan Rajab tahun 1185 serta memerintah dari tahun 1778 – 1808. Baginda telah memaklumkan kepada Raffles melalui suratnya pada 14 Februari 1811 bahwa baginda meminta bantuan kepada beliau karena Pontianak diancam oleh lanun di bawah pimpinan Sultan dan Pangeran Anom dari Sambas. Sultan Sambas telah bekerjasama dengan lanun untuk menyerang para pedagang yang berdagang dan berniaga di Pontianak, Mempawah, dan Banjar. Baginda telah memberi peringatan kepada Raffles sekiranya beliau tidak mengambil tindakan, pihak Inggris akan terkena dampak dari kegiatan mereka itu. Lebih kurang sebulan kemudian, baginda mengutus lagi warkah yang bertarikh 12 Maret 1811 dan dalam warkah ini Sultan Syarif Kasim Alqadrie telah menyatakan bahwa Pangeran Anom dari negeri Sambas dan Abdul Rasyid Mentok telah merampas kapal Mister Hare Melaka dan juga merampas sebuah wangkang dari Cina yang datang untuk berniaga di Pontianak dan Mempawah. Mereka telah merusakkan perdagangan dan mengganggu para pedagang yang keluar dan masuk berdagang. Baginda telah meminta bantuan Raffles agar sebuah kapal perang diantar dengan segera ke Pontianak untuk menangkap pencuri-pencuri tersebut karena mereka berada di laut Kuala Pontianak. Warkah ketiga baginda pada 22 Maret 1811, baginda tidak jemu-jemu memaklumkan kepada Raffles bahwa Pangeran Anom Sambas serta Abdul Rasyid Mentok telah membunuh Kapitan Ross di laut Mentok. Baginda memaklumkan sekali lagi masalah yang dihadapi akibat kegiatan lanun di Pontianak. Dalam dua bulan sahaja tiga pucuk warkah telah dikirimkan oleh baginda kepada Raffles untuk memaklumkan bahwa Pontianak berada dalam keadaan tidak aman akibat daripada kegiatan lanun dan perampokan yang dilakukan oleh Pangeran Anom dan Abdul Rasyid Mentok.
*100 fakta tentang kesultanan Sambas dihimpun oleh HARIES PRIBADY. Data diambil secara langsung dari sumber aslinya. Pengubahan kata maupun frasa dilakukan jika dianggap perlu. Penulis dalam hal ini bukanlah berarti penulis sebenarnya, melainkan sekadar menghimpun data dan fakta yang terdapat di dalam pelbagai buku, artikel, maupun jurnal hasil penelitian. Penulis menyadari bahwa hal itu berdampak pada nilai tulisan yang belum memenuhi standar akademik yang tinggi. Adapun rujukan yang digunakan dalam menyusun tulisan ini adalah sebagai berikut:
a. Risa, R. (2014). ISLAM DI KERAJAAN SAMBAS ANTARA ABAD XV–XVII: STUDI AWAL TENTANG ISLAMISASI DI SAMBAS. Khatulistiwa, 4(2).
b. Murtadlo, M. (2014). Masjid Kraton Sambas dalam Konstelasi Pembaharuan Islam di Kalimantan Barat. Jurnal Lektur Keagamaan, 12(1), 207-234.
c. Jaelani, J. (2014). SULTAN MUHAMMAD SYAFIUDDIN II: Pemimpin Kharismatik dari Ujung Utara Borneo Barat. Khatulistiwa, 4(2).
d. Sunandar, S. (2015). MELAYU DALAM TANTANGAN GLOBALISASI: Refleksi Sejarah dan Berubahnya Sistem Referensi Budaya. Khatulistiwa, 5(1).
e. Jabbar, L. A. (2015). TAFSIR AL-QURAN PERTAMA DI KALIMANTAN BARAT. Khatulistiwa, 5(1).
1883-1976)
f. Haris, D. M. N. (2016). Jaringan Intelektual Islam Kalimantan Barat Abad ke-20; Sebuah Analisis Sejarah
g. Syahrani, A., & Haq, M. S. (2013). PEMIKIRAN DAN PEMAKNAAN (KAJIAN SEMIOTIK) LIRIK LAGU-LAGU THE TERIGGAS OF SAMBAS KARYA MUL’AM HUSAIRI WALID. WACANA ETNIK, 4(1), 101-117.

Comments