Sajak XL

untuk (...),gadis cina yang mengikat akar rumput pada suatu sisi di bongkahan kerikil jiwaku.


Aku siap menjadi abu jika dia bisa bersanding ungu.
Aku rela membatu ketika dia beradu dengan langit biru.

Deretan kata yang tercurah lewat layar-layar kecil akan menyaksikan iringan pesan yang mewakili jiwaku.


Aku tak mau senyummu,aku tak mau tawamu.
Tak ingin kulihat kau tebarkan pasir di atas karpet yang kugelarkan untukmu.

Saat aku menyatakan bahwa subuh itu kelabu,kau diam sambil tersenyum pada huruf yang kaku.

Aku mengikuk dalam kebisuanku.Aku menunduk pada ketakutanku menatap matamu.
Aku terpasung di antara kekeliruan yang memaksaku berdiri digerogoti rasa kagum terhadapmu.


22 Februari 2011 

Comments