Sajak XXVI






Matahari membuka selimut kelamnya
Ketika itulah,kutemukan beronggok-onggok pemuda yang bertebaran
Tak bersuara,mereka hanya bisa menorehkan senyum pahit kepadaku
Pemuda-pemuda yang seharusnya sedang duduk manis di hadapan seorang guru
Pemuda-pemuda yang berhak untuk bercita-cita

Kini hanya bisa menunduk
Tanpa pilihan
Mereka harus rela menjadi kuli yang bermandikan terik mentari
Mereka harus rela menulis di atas keringat yang hampir habis
Mereka harus rela mendapatkan rapor yang bertuliskan nilai rupiah sebagai upah mereka


Ini tidak adil
Dimana pemimpinnya?
Mereka hanya bersembunyi dan duduk diam di balik meja besarnya
Mereka ada,namun hanya kebodohan yang mereka perlihatkan kepada kita

Ketika jeritan pemuda melengking hingga menembus gelombang pasir
Apakah kau dengar ?

Sudahlah!biarkan saja pemuda itu merayap dan mengkadali hidupnya
Itu kata-katamu.Apakah kau ingat?

Sudahlah,ya,sudah.SudaaaaH,biarkan.Namun ingat!
Semuanya tidak akan berakhir begitu saja


4 Agustus 2010

Comments