Sajak III


Surat untuk Zulfikar

Matahari menguraikan sinarnya ke atas air yang terhampar di
samudera.Bekasnya memutih,terpantul riak kecil gelombang yang
berkejaran menuju pantai.Lembaran-lembaran warna yang terbias oleh
cipratan air membawa jutaan benih cinta yang tumbuh di hati

bayangan kelam yang tersembunyi di balik kusamnya batu pantai menjadi
tempat yang aman bagi hewan-hewan kecil untuk berlindung dari kejaran
pemangsa.Entah yang menukik dari angkasa atau pun yang melata dengan
tubuh berbisanya.

Aku menggoreskan pena sambil berusaha untuk mengingat sebuah cerita
tentang kehidupan temanku yang sekarang sedang berada dalam dekapan
malaikat maut.Dua belas tahun yang lalu,pertama kali kulihat dia duduk
di selasar kelas dengan tas besar di punggung.Tatap matanya begitu
sendu dan halus,membenamkan hati seorang anak kecil sepertiku ke dalam
perasaan yang bodoh.Aku heran dengan keadaan ini.Semakin kucoba
menghindar,pikiranku semakin berontak.Seakan hendak lepas dan duduk
bersamanya.Kupandang erat dan lekat ,tanpa kedip dan suara.Ada hal
aneh yang terjadi,bibirnya mulai terbuka lantas menyunggingkan senyum
indah padaku.Ku terpana,membisu dan kaku.Itulah senyuman gadis kecil
pertama yang ku dapat.


Dengan rasa malu,ku pendam kekagumanku pada gadis yang sebaya
denganku.Ku bawa pulang senyum itu,ku letakkan di sebuah pelangi yang
melintas di antara kedua otakku.Ku balut dengan kegembiraan dan ku
tutup rapat agar tidak hilang.

Tidak lama kemudian,ku tahu nama gadis itu adalah Zulfikar. Aku mulai
dekat dan bermain bersamanya setiap hari di Taman Kanak-kanak Ade Irma
Suryani Nasution desa Bekut.Teringat pada sebuah pertanyaan yang
diberikan oleh Awang Isman,guru TK AISN,"Bunga apa yang Zulfikar
suka?"lantas dia menjawab,"bunga asoka!"Itulah pertama kalinya ku
mendengar kata 'asoka'dalam hidupku.

Pasir dan debu seakan tidak mau lepas dari tanganku selama di taman
kanak-kanak.Bermain air,menangkap ikan kecil berwarna belang kuning
dan hitam di kolam taman,mencari telur semut hitam walau pada akhirnya
kaki kami harus bengkak dan terasa panas.Menanam bawang di kebun
belakang walau pada akhirnya yang tumbuh hanya semak.Di balik semua
itu aku merasakan bahagia yang termahal dalam perjalanan
hidup.Pengalaman di waktu kecil yang tak mungkin terulang walau
kuganti dengan nyawa.

Hari demi hari terlewati dengan cepat.Tak terasa aku sudah duduk di
kelas dua sekolah menengah pertama.Dalam percakapan singkat dengan
Zulfikar,kudengar ia berkata,"Haries,hidupku mungkin sebentar
lagi".Aku tak memberikan tanggapan.Namun,aku malah mengolok dengan
mengatakan ,"Hai,gadis teri!"Aku berkata demikian,saat kutersadar
betapa kurusnya tubuh temanku ini.Percakapan itu kulupakan begitu
saja.Hingga pada suatu hari,ketika tubuh harus bersemangat mengikuti
pelajaran Penjaskes dengan Pak Nadimin,kudengar isak tangis
temanku.Ketika kutanya,mereka mengatakan,"Zulfikar telah wafat malam
tadi".

Aliran darahku seakan berhenti,mengumpul di janjung.Seperti hendak
pecah terurai bersama tangis.Ya Allah,betapa mudahnya Engkau
menghilangkan kehidupan teman baikku.Betapa mudahnya Engkau membuat
kami bersimpuh dengan mata sembab di hadapan-Mu.Zulfikar begitu muda
Ya Allah,tidak sempat kulihat dia menggapai dan mewujudkan
mimpinya.Tidak pernah kulihat dia tertawa lepas tanpa menahan sakit di
jantungnya.Tidak pernah kulihat ia bergerak lincah tanpa memaksa
derita enyah dari tubuhnya.


Masih melekat di batinku,Zulfikar menulis dengan indahnya pada ratusan
lembar kertas.Masih ingat di pikiranku ,wajahmu yang memucat saat
terkena sinar mentari.Masih segar di otakku dengan sebuah meja bundar
yang kita gunakan untuk belajar bersama di dapur rumahmu.Masih tajam
di benakku akan kesukaanmu memakan mangga mentah,belimbing,jambu,dan
nanas yang kau campur dengan sambal terasi.Kau ingat itu Zulfikar?

Sekarang aku tak tahu apakah kau ada di dekatku atau tidak.Ku tak tahu
apakah kau melihatku atau tidak.Namun ku tak akan melupakanmu
Zulfikar.Semua kenangan yang dulu pernah kusimpan di pelangi pikiranku
telah kukunci rapat.Ku kan menjaganya,agar tak hilang dan usang,hingga
ku mati dan bisa menemuimu.


Bulir-bulir hujan yang menyentuh tanah di malam ini mengiringi
penulisan ceritaku .Malam semakin kelam,tak memperlihatkan pesona
bintang yang berpijar.Angin menilik dari balik jendela,berusaha untuk
masuk menghembus tubuhku.


Dalam keremangan ini,aku berharap pada perubahan dunia.Dunia yang
terbentuk oleh tetesan ayat-ayat Allah,menyatu dan memberi bentuk pada
hidup.Saat semuanya bertasbih memuji dan menyucikan keagungan
asma-Nya,saat itu pula ku mencoba menahan sesak di dada.

Ku memohan pada Zat Yang Maha Menguasai hati,kuatkanlah iman dan takwa
kami di tahun ini.Ingatkanlah kami pada kematian yang pasti
dirasakan.Janjimu telah Kau sampaikan pada sahabatku,tanpa bisa ku
bertanya dan bercanda ,tanpa bisa ku berbicara dan menatapnya,yakni
Zulfikar.


Waktu yang berlalu,semakin menambah bilangan tahun.Waktu yang
bergulir,semakin menambah ingatan yang hilang di pikiran.Bukankah
Allah telah bersumpah atas waktu?Hal itu tidak lain hanya untuk
mengingatkan manusia akan singkatnya kehidupan.Allah telah
menggariskan takdir pada diri kita.Bukan pada satu di antara titik
horison langit,bukan pula di sekuntum bunga dandelion.Namun dikubur di
hati kita.Padanya telah tercatat di sebuah kitab yang nyata,Lauh
Mahfudz.

Kematian yang tertulis dalam daftar perjalanan ruh,akan menjadi
peristiwa berharga untuk kehidupan selanjutnya.Kematian membawaku
menemui penciptaku.Kematian membawaku menemui pemilik nyawaku,yakni
Allah.

Comments