Sajak XXX


Kaca hatiku mulai buram karena debu air.

Kabur,semuanya mengabur dan melebur.

Aku berkata iya,dan aku berkata tidak.

Mengapa awan itu harus menahan hujan di kubur?

Aku menengadah pada langit biru,yang membiaskan ungu di seberang merah.

Aku tahu!
Titisan hujan juga tahu dengan isi hatiku.

Sungguh aku rindu dengan titisan hujan.Menyejukkan bangku taman pada pohon yang rindang.

Namun,jangan sampai titisan itu membuatku kaku dan menyerah dengan semua mimpiku.

Sepakat 2,16 Oktober 2010

Comments