Sajak XXXIX

Lelah.Aku terbaring di bawah sinar lampu 20 watt.Dinginnya malam tak membuatku gemetar .
Di samping ku ada seorang manusia yang sangat aku kagumi.Ku anggap dia sebagai malaikat dalam hidupku.Dia segera tertidur,setelah mengganti kausnya dengan sepasang piyama lembut dan tipis.
Aku mencoba untuk menahan kantuk.Kupandangi setiap detail kamar yang wangi oleh pengharum ruangan.Ketika kutoleh,perutnya mulai naik turun,napasnya terdengar teratur dan matanya tertutup.
Ketika itu aku yakin bahwa dia sudah tertidur.Tidur yang terlihat sangat nikmat ,memecah dan menghamburkan rasa letih setelah seharian bekerja.
Matanya terlihat jelas .Ketika itu kelopaknya yang lembut menutupi bola mata secara sempurna.Aku memang jarang memperhatikan matanya karena dia selalu menggunakan kacamata setiap hari.
Uap-uap dari kulitnya mulai terangkat,masuk hingga tercium oleh hidungku,menggetarkan saraf dan menjalar hingga ke otak.Aku berusaha untuk diam, mencoba menidurkan diri dan membiarkan malaikat itu bermimpi
Suhu pada malam itu turun dengan tiba-tiba.Aku terbaring dengan perasaan yang tidak tenang.Disaat itu aku merasa kepalaku diusap dengan sentuhan yang lembut.Usapan dari gerakan tangan yang mengalir halus menyusuri setiap helai rambutku.Antara sadar dengan tidak,aku berusaha menikmatinya.
Kelopak mataku memberontak dengan batin.Aku terpejam.Kelopak mata ingin segera membuka,hanya untuk memastikan apakah ini mimpi atau kenyataan.Batinku hanya berkata halus pada kelopak,”Biarlah,biarkan saja jiwa ini merasakan sentuhan lembut yang belum pernah ia rasakan.” Akhirnya kelopak mataku pun mengalah,dan aku terlarut dalam usapan lembut di dahiku.
Aku tertidur dengan meresapi setiap usapan yang mengalir di kepalaku.Tubuhku mulai bergerak ke kanan dan ke kri,menelungkup,aku mulai gelisah.
Di saat itu aku merasakan embusan napas yang lembut mengenai hidungku.Embusan napas yang hangat dan membuatku semakin nyaman.Kucoba menikmatinya.
Tiba-tiba aku terjaga dari tidur bimbangku.Kulihat malaikat itu ada di depanku ,memandang dengan penuh kesungguhan.Aku hanya terdiam dengan tangan yang telah erat dirangkul olehnya.Wajah malaikat itu mendekat,aku semakin jelas melihat jiwanya.
Napas-napas itu terdengar menyatu dalam sebuah tatapan kosong.
Keringat mulai mendingin,begitu juga dengan tubuhnya.Dengan gerakan malas malaikat itu mengambil selimut hijau yang ada di dekatnya.Menutup tubuhnya dengan lekat dan kuat.
Aku hanya terdiam,heran,dan bimbang.


Pontianak, 11 Oktober 2010

Comments