Sajak IV

Bahasa dan Derita


Ujung pena yang tajam di selembar kertas
Melukai potongan jiwa dengan warna tintanya yang hitam
Merintih dan kesakitan untuk menorehkan kalimat
Menusuk kata agar ianya tertumpah


Ujung pena yang menombak dan memanah mentari
Meruncing dan kokoh di tangan anak bangsa
Ujung pena yang tak pernah letih
Merekam sejarah dalam gulungan kertas usang


Goresan halus yang terbentuk puluhan tahun lalu
Mengingatkanku pada mereka
Pemuda cerdas yang menjadikan pena sebagai sahabatnya
Tidak pernah kudengar darah mengucur dari dahinya
Tidak pernah ku cium peluru bersarang di dadanya
Namun selalu kulihat jiwanya mati oleh goresan tintanya

Pemuda yang berjuang dengan tulisan
Membentuk bahasa dan selalu berbahasa


Pemuda yang tersiksa
Pemuda yang merana
Namun bukan karena derita
Melainkan untuk mempertahankan bahasa


Bahasa kita bahasa jiwa
Bahasa jeritan seluruh bangsa
Bahasa kita bahasa raga
Ungkapan pahit pendiri bangsa


Kau yang menodai bahasa
Tidak akan kubiarkan Kau meradang
Biarlah tubuh ini terkekang
Asalkan bahasa tetap menjadi junjungan

--

Comments