Sajak XIX





Langit telah bosan dengan dengkuranku
Menyayat mimpi menjadi potongan mozaik halus
Merentas asa yang sempat terbiar dihujani lelehan api
Ketika konstelasi bintang bertaburan di sudut kamar yang menjadi tempat hidupku
Ketika itu pula hujan meteor menghanguskan mimpi yang sudah lama aku rajut dengan jaring laba-laba
Galau hati tak terperih
Atmosfer menyalahkan aku!
Derit suara pesan yang tiba-tiba masuk telah mengoyak lembaran langitku
Lembaran purba yang telah menghistorikan hidupku ke dalam cahaya malam yang temaram
Menelan sinar,bahkan tak sudi untuk mengeluarkan cahaya
Ti upan angin dingin bahkan telah menembus pusat bintang yang terpanas
Kelam
Hanya sisa cahaya yang menjadi lentera dalam melintasi samudra mimpi
Mereka berkata tentang dia
Dia yang telah mengalirkan darah dalam nadi yang tak pernah lelah
Yang telah memenuhi otak dengan ratusan helai nilai ujian
Yang telah terbangun untuk menghidupkan aku kembali bersama dirinya
Akuuuuuuuuuuuuuuu !
Terlalu menengadahkan tangan!
Tetapi aku yakin.Langit tetap terbuka untukku



10 Januari 2010

Comments